BPK Temukan Adanya Penyimpangan dalam Produk Jiwasraya

    Eko Nordiansyah - 08 Januari 2020 17:03 WIB
    BPK Temukan Adanya Penyimpangan dalam Produk Jiwasraya
    Asuransi Jiwasyara. Foto : MI/RAMDANI.
    Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melaporkan adanya penyimpangan terhadap produk JS Saving Plan yang dijual oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Selama ini produk JS Saving Plan merupakan produk yang memberikan kontribusi pendapatan tertinggi di Jiwasraya sejak 2015.

    "Produk ini sebenarnya merupakan produk simpanan dengan jaminan return yang sangat tinggi dengan tambahan manfaat asuransi," kata Ketua BPK Agung Firman Sampurna di Gedung BPK, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Januari 2020.

    Dirinya menambahkan BPK menemukan penyimpangan dalam produk JS Saving Plan yaitu penunjukkan pejabat Kepala Pusat Bancassurance pada SPV pusat bancassurance tidak sesuai ketentuan. Selain itu pengajuan cost of fund dilakukan langsung kepada direksi.

    "Pengajuan cost of fund langsung kepada direksi, tanpa melibatkan divisi terkait dan tidak didasarkan pada dokumen perhitungan COF dan review usulan COF atau cost of fund," jelas dia.

    Selain itu, penetapan cost of fund dari produk JS Saving Plan tidak mempertimbangkan kemampuan investasi Jiwasraya untuk menghasilkan pendapatan yang diperlukan untuk menutup biaya atas produk asuransi yang dijual. BPK juga menemukan adanya konflik kepentingan dalam pemasaran produk ini.

    "Dalam pemasaran produk saving plan yang diduga ada konflik kepentingan (conflict of interest) karena pihak-pihak terkait di Jiwasraya mendapatkan fee atas penjualan produk tersebut," ungkapnya.

    Dalam kurun 2010 sampai dengan 2019, BPK telah dua kali melakukan pemeriksaan atas PT Asuransi Jiwasraya (PT AJS) yaitu Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu (PDTT) 2016 dan Pemeriksaan Investigatif (Pendahuluan) 2018.

    Dalam PDTT 2016, BPK mengungkap 16 temuan terkait dengan pengelolaan bisnis, investasi, pendapatan dan biaya operasional PT AJS 2014 sampai dengan 2015. Temuan tersebut antara lain: investasi pada saham TRIO, SUGI, dan LCGP 2014 dan 2015 tidak didukung oleh kajian usulan penempatan saham yang memadai.

    Selain itu, PT AJS berpotensi menghadapi risiko gagal bayar atas transaksi investasi pembelian Medium Term Note PT Hanson Internasional (HI). PT AJS dinilai kurang optimal dalam mengawasi reksa dana yang dimiliki dan terdapat penempatan saham secara tidak langsung di satu perusahaan yang berkinerja kurang baik.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id