Sektor Industri Sumbang 30% Penerimaan Pajak

    Nia Deviyana - 09 Oktober 2019 12:23 WIB
    Sektor Industri Sumbang 30% Penerimaan Pajak
    Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara. FOTO: dok Kemenperin.
    Jakarta: Sektor industri menjadi kontributor terbesar penerimaan negara melalui setoran pajak. Pada 2018, realisasi pajak dari sektor industri mencapai Rp363,60 triliun atau menyumbang 30 persen dari total penerimaan pajak sebesar Rp1.316 triliun.

    "Setoran industri tahun lalu meningkat 11,12 persen dibanding 2017. Selain itu, industri mampu menyumbang penerimaan cukai sebesar Rp159,7 triliun," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara, melalui keterangan resminya, Rabu, 9 Oktober 2019.

    Kemenperin juga mencatat, sepanjang Januari-Juni 2019, pengapalan produk manufaktur nasional mampu menembus hingga USD60,16 miliar. Nilai ini berkontribusi sebesar 74,88 persen dari capaian ekspor nasional yang menyentuh angka USD80,32 miliar di semester pertama.

    Pencapaian tersebut, kata Ngakan, didorong penerapan industri 4.0 sehingga mendorong peningkatan produktivitas sektor industri secara lebih efisien. Hal ini karena telah terbangunnya konektivitas melalui pemanfaatan teknologi digital. Misalnya, menggunakan internet of things atau artificial intelligent.

    Industri 4.0 juga dapat memunculkan pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti teknisi untuk memperbaiki robot dan para tenaga ahli untuk mengolah data-data.

    "Apalagi, sekarang banyak aplikasi yang telah berkembang untuk mendukung dalam proses produksi," tuturnya.

    Ngakan pun optimistis transformasi industri 4.0 akan mendongkrak kinerja sektor manufaktur nasional. Hal ini akan memperkuat peran industri terus menjadi sektor andalan dalam menopang perekonomian Indonesia. "Industri sebagai kontributor terbesar penerimaan negara, seperti melalui setoran pajak," jelasnya.

    Ke depan, lanjut Ngakan, pemerintah mendorong peningkatan peran sektor industri manufaktur sebagai penggerak utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Adapun sejumlah langkah strategis yang disiapkan, antara lain memacu produktivitas, daya saing produk ekspor, dan penguatan struktur manufaktur.

    "Untuk menciptakan sasaran tersebut, kita perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif, kemudian mengaktifkan kegiatan R&D, menggerakkan potensi-potensi sektor ekonomi, dan menjaga kondisi makro ekonomi kita agar tetap stabil," jelasnya.

    Ngakan menegaskan pihaknya sudah mengukur tingkat kesiapan sejumlah sektor industri di dalam negeri untuk menuju transformasi industri 4.0. Sektor-sektor yang diprioritaskan dalam implementasi tahap awal, sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri kimia, industri otomotif, serta industri elektronika.

    "Alat ukur itu kita namakan Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), yang tujuannya agar kita bisa mengetahui level kesiapan industri yang bisa kita lakukan assessment. Di samping itu, kami juga sudah membangun ekosistem industri 4.0 dan mengembangkan konsep green industry," urainya.

    Hingga kini, Kemenperin telah melakukan assessment terhadap 326 perusahaan manufaktur. Dari hasil penilaian tersebut, sejumlah perusahaan sudah siap menuju transformasi industri 4.0.

    "Selanjutnya, kami juga memberikan bimbingan teknis transformasi industri 4.0 baik itu kepada manager maupun engineer perusahaan," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id