Erick Thohir Sebut Penahanan Benny Tjokro Tak Pandang Bulu

    Annisa ayu artanti - 14 Januari 2020 20:00 WIB
    Erick Thohir Sebut Penahanan Benny Tjokro Tak Pandang Bulu
    Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Foto : MI/Ramdani.
    Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menilai Kejaksaan Agung sangat tegas dan tidak pandang bulu dalam menetapkan tersangka Direktur Utama PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro.

    Erick mengapresiasi ketegasan Kejaksaan Agung dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait Benny Tjokrosaputro dalam kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

    "Tindakan tegas dan tak pandang bulu pada kasus Jiwasraya sangat penting dalam mencapai keadilan sekaligus mengembalikan kepercayaan publik pada korporasi," kata Erick dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 14 Januari 2020.

    Dengan penahanan orang-orang tersebut akan terbongkarnya borok-borok perusahaan merah tersebut. Erick juga mengatakan pengusutan tuntas kasus ini akan menjadi babak baru untuk menata ulang perusahaan tersebut.

    "Pengusutan kasus di masa lalu itu sekaligus penataan korporasi untuk hari ini dan masa depan yang semakin baik," ucapnya.

    Selain Benny Tjokrosaputro, Kejaksaan Agung juga menetapkan tersangka Mantan Direktur Keuangan dan Investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hary Prasetyo, dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM) Heru Hidayat, serta mantan direktur utama Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim.

    Keempat orang tersebut merupakan saksi yang diperiksa oleh Kejaksaan Agung terkait kasus Jiwasraya.

    Kasus Jiwasraya bermula dari laporan pengaduan masyarakat dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta mengendus adanya dugaan tindak pidana korupsi. Perkara itu diduga terjadi sejak 2014 sampai dengan 2018.

    Jiwasraya melalui Unit Kerja Pusat Bancassurance dan Aliansi Strategis menjual produk JS Saving Plan. Persentase bunga tinggi ditawarkan berkisar antara 6,5 persen dan 10 persen sehingga memperoleh pendapatan total dari premi sebesar Rp53,27 triliun.

    Hingga Agustus 2019, Jiwasraya menanggung potensi kerugian negara Rp13,7 triliun. Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio risk based capital (RBC) minimal 120 persen. RBC mengukur tingkat kesehatan finansial suatu perusahaan asuransi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatur minimal batas RBC sebesar 120 persen.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id