Mekanisasi Pertanian Hasil Kerja Keras Peneliti

    Gervin Nathaniel Purba - 24 Agustus 2017 17:55 WIB
    Mekanisasi Pertanian Hasil Kerja Keras Peneliti
    Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman. Dok:Mentan.
    medcom.id, Jakarta: Mekanisasi pertanian merupakan salah satu komponen penting untuk pertanian modern dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan. Kemajuan teknologi mekanisasi pertanian akan menjadikan pertanian jaya sehingga mimpi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dapat diwujudkan. 

    "Yang bisa mengubah Indonesia adalah peneliti, yang bisa mengubah dunia adalah teknologi. Dan yang mengubah pertanian adalah mekanisasi. Kejayaan pertanian ada di tangan litbang," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman dalam keterangan tertulisnya saat Launching Inovasi Teknologi Mekanisasi Modern Hortikultura dan Pemberian Agroinovator Award, Kamis 24 Agustus 2017.

    Pada kesempatan itu, Amran meluncurkan 24 alat dan mesin pertanian (alsintan) hasil rekayasa Badan Litbang Pertanian, yaitu mesin otomatisasi perbenihan modern, penghancur tanah, pencampur tanah, penabur tanah, penggulud, pemasang mulsa, alat tanam, smart green house, alat panen, sterilisasi ozon, in-store controlled room (penyimpan), pengemas benih dan pompa hybrid.

    Amran menjelaskan teknologi mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produksi sebanyak 10 persen, mengurangi kehilangan panen 10,2 persen, dan mampu menghemat biaya produksi mencapai 40 persen. Contonya, dulu panen 1 ha membutuhkan waktu 25 hari, tetapi dengan kemajuan mekanisasi pertanian saat ini hanya tiga jam. 

    Mekanisasi pun dapat menyelamatkan kehilangan panen padi 10,2 persen atau setara tujuh juta ton senilai Rp28 trilun yang diambil ke depanya. Kemudian dulu biaya untuk panen dua juta per ha, tapi dengan teknologi mekanisasi hanya 1 juta per ha. 

    "Analisis usaha tani dengan dukungan mekanisasi modern, alsintan yang di-launching, dapat menekan biaya untuk bawang merah sebesar Rp33,9 juta per ha atau efisiensi 45 persen dan cabai Rp28,6 juta per ha atau efisiensi 38 persen dibandingkan secara manual," jelas Amran.

    Dirinya mengungkapkan kemajuan teknologi mekanisasi pertanian saat ini berkat kerja keras para peneliti. Dulu jumlah peneliti yang sebanyak 1.128 orang diberikan tugas untuk tidak membiarkan impor alsintan masuk ke Indonesia. Hasilnya, kini Indonesia dapat memproduksi sendiri traktor roda empat dan alat panen (combine harvester).

    "Dua tahun lalu, peneliti pasrah seakan tidak ada masa depan dan harapan. Padahal peneliti sudah menghasilkan teknologi yang luar biasa tapi kurang dapatkan perhatian yang selayaknya. Karena itu, kami surati Menteri Keuangan, beri mereka royalti. Hasilnya mereka dapat Rp3,5 miliar. Usahakan royalti naik Rp100 miliar, Rp200 miliar, kalau perlu Rp1 triliun. Begitu caranya majukan pertanian, harus dengan mimpi besar," ungkapnya. 

    Selain itu, Amran menegaskan kemajuan mekanisasi dapat mendorong pemuda untuk terjun ke sawah menjadi petani. Pemuda memiliki kemampuan untuk melakukan inovasi atau terobosan baru sehingga dapat mengoptimalkan dan membangunkan lahan tidur dan pasang surut. 

    "Kalau dulu para pemuda tidak mau ke sawah, tapi sekarang banyak yang menjadi petani, sambil bawa traktor bisa menelpon. Karena itu, jika pemuda bergerak, kita optimistis wujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dan merealisasikan nawa cita yakni membangun negara dari penggiran," pungkasnya.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id