Presiden Jokowi Antisipasi Resesi Ekonomi Akibat Virus Korona

    Suci Sedya Utami - 10 Februari 2020 21:27 WIB
    Presiden Jokowi Antisipasi Resesi Ekonomi Akibat Virus Korona
    Ilustrasi Virus Korona. Foto : AFP.
    Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan Presiden Joko Widodo bakal menggelar rapat khusus untuk membahas mengenai dampak penyebaran virus Korona pada potensi terjadinya resesi ekonomi dunia.

    Erick mengatakan penyebaran virus tersebut yang diduga berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok telah membuat ekonomi negeri Tirai Bambu tersebut terancam masalah. Sebagai mitra dagang utama Indonesia, apabila ekonomi Tiongkok bermasalah maka Indonesia pun akan ikut terkena imbas.

    "Untuk Indonesia sendiri, besok presiden minta ratas salah satu yang dibahas bagaimana kita mengantisipasi resesi global ekonomi bila virus Korona tidak bisa berhenti atau memakan waktu berbulan-bulan," kata Erick di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin, 10 Februari 2020.

    Dia bilang bagi Indonesia beberapa proyek yang sedng dikerjakan berpotensi terhambat. Terutama proyek-proyek yang membutuhkan bahan baku dari Tiongkok.

    Selain itu, ia mencontohkan kerja sama Emirates Global Aluminium (EGA) dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam rangka penambahan produksi ingot alloy dan billet. Bisa saja EGA yang merupakan perusahaan Abu Dhabi melihat bahwa Indonesia tidak aman karena terkait juga dengan Tiongkok.

    "Orang Abu Dhabi enggak tahu di Indonesia aman atau tidak. Bisa saja investasi ini di-hold dan salah satu agreement kita dengan EGA salah satunya menggunakan teknologi China kalau tidak salah," tutur Erick.

    Selain mengganggu jalannya sejumlah proyek dan hubungan kerja sama ekonomi Indonesia dengan berbagai negara, dampak virus 1019-nCoV yakni bisa menurunkan pendapatan wisatawan asing ke Indonesia.

    Apalagi mayoritas wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia yakni warga negara Tiongkok. Berdasarkan data Badan Pusata Statistik (BPS) sepanjang 2019, jumlah turis asal Tiongkok yang datang ke Indonesia mencapai 2,07 juta orang atau 12 persen dari total wisatawan mancanegara yang berkunjung.

    Sementara pada Desember 2019 ketika musim liburan, turis asal Tiongkok menempati posisi ketiga yakni dengan jumlah 125,6 ribu orang yang berkunjung atau 11,2 persen dari total turis yang berkunjung sebanyak 1,37 juta orang.

    Lebih lanjut, virus tersebut juga melemahkan ekspor Indonesia. Kepala BPS Suhariyanto pernah mengatakan Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia baik dari sisi ekspor maupun impor. Ia bilang semua kegiatan ekonomi yang terjadi di Tiongkok tentu akan terefleksi pada Indonesia.

    "Karena ekspor utama kita ke Tiongkok dan impor utama kita juga dari Tiongkok, apa yang terjadi di Tiongkok pasti akan berpengaruh terhadap permintaan dan pengiriman barang," kata Suhariyanto.

    Berdasarkan data BPS, dalam ekspor nonmigas sepanjang 2019, Tiongkok menjadi tujuan utama. Ekspor ke Tiongkok mencapai USD25,85 miliar atau 16,68 persen dari total ekspor nonmigas yang mencapai USD154,99 miliar. Di Desember saja saat virus tersebut belum merebak, ekspor ke Tiongkok mengalami penurunan USD101,2 juta.
     
    Selain itu, Tiongkok juga masih menjadi negara utama asal impor Indonesia. Sepanjang 2019, impor nonmigas dari Tiongkok mencapai USD44,58 miliar atau 29,95 persen dari total impor nonmigas USD148,84 miliar.
     
    Sementara pada Desember 2019, impor dari Tiongkok juga sempat mengalami penurunan USD123 juta. Sepanjang 2019, Indonesia masih mencatatkan defisit perdagangan dengan Tiongkok sebesar USD18,72 miliar.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id