MAGHRIB 17:47

    Untuk Jakarta dan sekitarnya

    IMSAK 04:26
    SUBUH 04:36
    DZUHUR 11:53
    ASHAR 15:14
    ISYA 19:00

    Download Jadwal Imsakiyah

    Rhenald Kasali Sebut BUMN Bukan Lagi Lazy Company

    16 April 2019 23:36 WIB
    Rhenald Kasali Sebut BUMN Bukan Lagi <i>Lazy Company</i>
    Garuda Indonesia. Foto: MI/Angga Yuniar
    Jakarta: Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai sudah mampu memberikan kontribusi ekonomi. Ada banyak fakta BUMN mulai bergerak, tidak lagi menjadi lazy company. BUMN pun mulai berkontribusi besar terhadap perekonomian.

    Pandangan demikian disampaikan Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali menyikapi tudingan bahwa BUMN tidak memberikan kontribusi dan salah kelola. "BUMN turut berjuang untuk membuka daerah-daerah terpencil," kata Rhenald melalui keterangan tertulis, Selasa, 16 April 2019.
    Ia mencontohkan Angkasa Pura II yang turut mengelola Bandara Silangit. Kemudian Bandara Banyuwangi yang kini telah diperbesar. "Pekerjaan yang kira-kira swasta tidak berani masuk dan pemerintah daerah juga ingin melepas, kini ditangani oleh BUMN."

    Saat ini, tambah dia, BUMN tengah mengembangkan bandara di Purbalingga. "Bayangkan bertahun-tahun ekonomi sudah berkembang di sana, namun masih kurang perhatian untuk pembangunan bandara di wilayah itu. Jalan tol dibangun juga karena pihak swasta tidak ada yang berminat untuk itu, maka di situlah BUMN masuk,” jelasnya.

    Ia menjelaskan BUMN juga turut mengaktifkan langkah-langkah mengharumkan nama bangsa, terutama untuk menjalankan amanah Pasal 33 UUD 1945, yaitu mengambil alih dari asing. 

    "Freeport sudah masuk, Blok Mahakam, dan Blok Rokan juga sudah masuk. BUMN telah menjalankan peran ini dengan baik," kata dia.

    Terkait pandangan miring atas holding BUMN, ia malah melihat holding dapat membantu kelengkapan dan membuat lebih besar. Holding BUMN juga disebut memberikan kemampuan untuk melakukan financial laveraging

    Ia mencontohkan holding yang dilakukan Singapura. Bila Singapore Airlines masuk ke seluruh negara, tidak hanya Singapore Airlines yang akan masuk, tetapi juga bandaranya. Makanya, kata Rhenald, bandara Singapura bisa mengelola bandara lain di dunia. 

    “Dengan holding mereka bisa menjamin, 'kalau saya mengelola airport di negara Anda, saya akan bawa kargo, saya akan bawa penumpang.' Bisa seperti itu,” ujarnya.  

    Ia yakin Indonesia pun bisa. Dengan catatan, mainnya tidak sendiri-sendiri, tidak saling menginjak. "Harus bersinergi. Dengan begitu menjadi kuat, besar, dan kita tidak ditertawakan lagi oleh negara tetangga. Airlines kalau hanya mengandalkan passenger sampai kapan pun tidak akan untung,” kata Rhenald.



    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id