Lebih Banyak Milenial Terlibat Bisa Tingkatkan Industri Pertanian

    Ilham wibowo - 12 Desember 2019 15:46 WIB
    Lebih Banyak Milenial Terlibat Bisa Tingkatkan Industri Pertanian
    Petani. Foto : MI/Ramdani.
    Jakarta: Chairman Institute for Food and Agriculture Development Studies (IFADS) Iskandar Andi Nuhung menuturkan ketahanan hingga kedaulatan pangan di Tanah Air bisa terwujud dengan pengelolaan yang baik. Pemerataan infrastruktur pendukung pengembangan pertanian telah dibangun di samping pemanfaatan teknologi modern.

    "Indonesia tidak perlu khawatir dengan pangan, secara teori bisa surplus, infrastruktur pertanian sedang dibuat secara merata," kata Andi dalam sebuah diskusi di Seribu Rasa, Jakarta Selatan, Kamis, 12 Desember 2019.

    Andi optimistis, sektor pertanian RI bisa kembali jaya dengan komoditasnya yang banyak diimpor negara lain seperti gula dan vanili. Karenanya, produktivitas seluruh komoditas perlu ditingkatkan dengan mendorong generasi muda lebih banyak terjun di dunia pertanian.

    "Kita harus menjaga sistem produksi pangan karena pangan ini kebutuhan dasar kedua setelah bernafas," ujarnya.

    Penerapan teknologi modern juga perlu dalam menunjang penerapan diversifikasi pangan yang bisa diterima masyarakat dengan baik. Diperlukan keberagaman makanan pokok selain beras menghadapi lonjakan penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 300 juta jiwa pada 2030.

    "Teknologi pengembangan pangan perlu terus didorong, perlu ada terobosan diversifikasi pangan seperti bisa ubah singkong menjadi beras, jangan dilakukan pada saat terpaksa tapi harus menjadi kebiasaan," ungkapnya.

    Co Founder/CEO Habibi Garden Irsan Rajamin menuturkan pihaknya telah menginisiasi implemetasi teknologi internet of thinking (IoT) di sektor pertanian Tanah Air. Sensor yang diterapkan di ladang bisa mengukur kebutuhan air dan pupuk secara akurat untuk kondisi lahan pertanian di Indonesia.

    "Pemanfaatan teknologi sudah banyak di Jepang dan Eropa, tapi itu untuk Industri dan kita butuh kearifan lokal untuk penerapannya di Indonesia sehingga harga investasi lebih murah," kata Irsan.

    Bertani dengan pengolahan data saat sudah bisa diwujudkan terutama di sejumlah kebun di Jawa Barat. Seperti kebun cabai misalnya, hasil penen bisa meningkat hingga 200 persen dengan akurasi data pengairan.

    "Ini magnet bagi generasi milenial kembali ke pertanian, dengan teknologi kami lahan bisa dimonitoring dari aplikasi yang sekaligus jadi daya tarik investor untuk terjun di pertanian," tuturnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Head of Business Sustainability di PT Syngenta Indonesia Midzon Johannis mengatakan para petani perlu terus diberikan kemudahan akses terutama dalam implemetasi hasil penelitian dan pengembangan dari para ahli pertanian di universitas. Saat ini, para petani di Indonesia masih didominasi umur 45 tahun ke atas dengan pendidikan yang kurang memadai.

    "Ini tantangan sendiri bagi kami yang bergerak di bidang pertanian, menaikan produktivitas tanaman makin lama makin sulit, padahal sudah pakai hibrida tapi masih kehilangan hasil artinya masih ada potensi yang bisa ditingkatkan," ujarnya. 




    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id