Asosiasi Pertekstilan Ingin Safeguard Segera Tekan Impor

    Ilham wibowo - 07 Oktober 2019 12:13 WIB
    Asosiasi Pertekstilan Ingin <i>Safeguard</i> Segera Tekan Impor
    Ilustrasi industri tekstil.. FOTO: dok Kemenperin.
    Jakarta: Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional perlu segera dilindungi dari serbuan produk impor yang membanjiri pasar di Tanah Air. Langkah pengamanan perdagangan atau safeguard Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjadi penting untuk mengubah peta daya saing penyerapan.

    "Kami fokus dalam menjaga pasar dalam negeri dan produsen dalam negeri melalui safeguard," kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudradjat kepada Medcom.id, Senin, 7 Oktober 2019.

    Menurutnya, API telah meminta pembatasan lonjakan volume impor benang pada produk dengan nomor Harmonized System (HS) delapan digit, yaitu 5509.22.00, 5509.32.00, 5509.51.00, 5509.53.00, 5510.12.00, dan 5510.90.00. Adapun pelaporan telah dilakukan pada 12 September 2019.

    Tak hanya produk benang, API juga meminta pembatasan pada volume impor kain. Permohonan tersebut diajukan untuk produk kain dengan nomor HS delapan digit sebanyak 107 jenis sesuai dengan buku tarif kepabeanan Indonesia (BTKI) 2017.

    Ade mengharapkan upaya safeguard yang telah dilayangkan kepada Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Kemendag segera membuahkan hasil. Industri dalam negeri kehilangan daya saing saat jumlah produk impor telah lebih dari 30 persen dari total serapan.

    "Kami ajukan ke KPPI dan sudah hiring, artinya mungkin tinggal mereka rapat antarmenteri menentukan besaran jumlah dan sebagainya," ujarnya.

    Kerugian atau ancaman kerugian serius dari banyaknya produk impor terlihat dari beberapa indikator kinerja industri dalam negeri tahun 2016-2018 dan semester I-2019. Indikator tersebut antara lain kerugian finansial secara terus menerus yang diakibatkan dari menurunnya volume penjualan domestik, meningkatnya persediaan akhir atau jumlah yang tidak terjual, menurunnya jumlah tenaga kerja, serta menurunnya pangsa pasar industri dalam negeri di pasar domestik.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam tiga tahun terakhir (2016-2018) dan semester I-2019, volume impor yang dimintakan perlindungan terus mengalami peningkatan dengan tren sebesar 44,38 persen. Volume impor selama tiga tahun terakhir masing-masing sebesar 10.036 ton, 15.846 ton, dan 20.922 ton.

    Negara asal impor benang (selain benang jahit) dari serat stapel sintetik dan artifisial antara lain Tiongkok, Thailand, Turki, Vietnam, dan India. Impor terbesar berasal dari Tiongkok, dengan pangsa impor pada 2018 sebesar 67,42 persen, kemudian pada 2017 sebesar 72,50 persen, dan pada 2016 sebesar 66,17 persen dari total impor Indonesia.

    Sementara itu, volume impor kain juga terus meningkat dengan tren sebesar 31,80 persen. Pada 2016, BPS mencatat impor kain sebesar 238.219 ton, kemudian pada 2017 naik menjadi 291.915 ton, dan terus naik menjadi 413.813 ton pada 2018.

    Negara asal impor kain antara lain dari Tiongkok, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan. Volume impor kain Indonesia terbesar berasal dari Tiongkok dengan pangsa impor sebesar 67,86 persen pada 2018, kemudian 63,61 persen pada 2017, dan 61,42 persen pada 2016 dari total impor Indonesia.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id