Makin Banyak UKM Masuk E-Commerce

    02 Juli 2018 08:26 WIB
    Makin Banyak UKM Masuk E-Commerce
    Ilustrasi. (FOTO: MI/Arya)
    Banjarmasin: Perkembangan bisnis e-commerce, terutama marketplace, di Indonesia makin pesat. Dari tahun ke tahun, beragam 'pasar' bermunculan ditambah dengan jumlah pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang beralih dari usaha konvensional ke daring (online) kian bertambah.

    Misalnya saja di Bukalapak, salah satu pasar daring terbesar di Indonesia. Pada 2011, jumlah pelapak (penjual di Bukalapak) hanya sekitar 10 ribu. Namun, angka itu naik signifikan menjadi 250 ribu pada 2015, 1 juta di 2016, hingga kini mencapai lebih dari 3 juta.

    Head of Community Management Bukalapak Muhammad Fikri mengatakan jumlah UKM yang semakin meningkat di Bukalapak salah satunya disebabkan jangkauan pemasaran tidak terbatas. Walhasil, mereka pun dapat menjual produk lebih banyak.

    "Hal itu secara tidak langsung memberikan kesempatan begitu besar bagi tumbuh kembangnya transaksi dan bisnis mereka. Pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka," ujarnya saat kunjungan Bukalapak bersama media di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, akhir pekan lalu.

    Sementara itu, untuk menjaring lebih banyak UKM berdaring, menurut Fikri, pihaknya memberikan berbagai pelatihan dan pendampingan. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan secara offline melalui kegiatan berbagi sharing komunitas, tetapi juga lewat daring seperti group chat.

    "Anggota komunitas kami di Bukalapak saat ini sudah lebih dari 5.000, di hampir 100 kota yang tersebar di Indonesia," ungkapnya.

    Koordinator atau Ranger Komunitas Bukalapak Banjarmasin Fajeri Hidayat mengklaim kegiatan komunitas sedikit banyak telah memengaruhi pertumbuhan jumlah UKM yang tergabung di Bukapalak. Itu antara lain berkat ilmu dan pengalaman yang dibagikan selama pelatihan.

    "Kita tahu sekarang ini eranya digital. Jadi, kalau mau maju, harus berani mulai usaha lewat online. Nyemplung saja dulu," cetusnya.

    Jika dibandingkan dengan beberapa tahun silam, tepatnya awal 2000-an, ungkap Fajeri, bisnis daring kala itu masih mengandalkan website. Akan tetapi, kini sudah banyak marketplace yang menawarkan berbagai kemudahan bagi pelaku UKM yang ingin berjualan online.

    Pertumbuhan signifikan juga dialami marketplace Shopee yang merambah Indonesia sejak 2015. Saat ini, dari dua juta penjual di Shopee, lebih dari 70 persen ialah UKM. Adapun 35 ribu di antaranya sudah tergabung dalam komunitas Shopee yang tersebar di 33 kota per-Februari 2018.

    "Ini tentu tidak lepas dari semakin percayanya konsumen kami bagi dari pembeli ataupun penjual di Indonesia," terang Brand Manager Shopee Indonesia Rezky Yanuar.

    Ia menambahkan, Shopee bersama pemerintah, baik pusat maupun daerah, komit menjadikan UKM go digital, salah satunya melalui program edukasi berkurikulum bagi UKM agar siap berjualan daring.

    Pilih-Pilih

    Tuhu Nugraha Dewanto, pakar digital marketing, menegaskan untuk bisa berkembang di pasar daring, pelaku UKM harus kaya inovasi. Sekurang-kurangnya, tampilan produk, kemasan, serta varian produk yang ditawarkan harus beragam dan menarik.

    Pelaku UKM konvensional yang ingin hijrah berjualan daring juga harus pandai memilih marketplace yang tepat. Jangan sampai salah target karena segmen pasar yang tidak sesuai.

    "Misalnya kalau produk kita handicraft, lebih cocok di Blibli. Untuk mass product, bisa ke Shopee, Tokopedia, atau Bukapalak. Penting juga kita tahu segmen pasar mereka untuk kalangan menengah ke atas atau sebaliknya," jelas Tuhu.

    Dewasa ini, ia menilai bukan hanya dari penjual (UKM) yang belum tepat dalam menentukan pilihan marketplace. Bahkan dari marketplace pun tidak ada satu pun yang sudah benar-benar menguasai pasar, dalam artian mendominasi.

    Sebagai contoh, lanjut Tuhu, dari sistem pembayaran e-commerce semuanya belum terlalu matang karena sampai saat ini COD masih jauh lebih tinggi ketimbang debit/kartu kredit. Begitu pun logistik tidak ada yang paling dominan atau unggul dari segi produk. "Padahal, untuk itu, yang dibutuhkan sebenarnya ialah inovasi," ucapnya. (Media Indonesia)

     



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id