Faisal Basri: Kandidat Menteri Harus yang Mau Bersinergi

    Ilham wibowo - 10 Oktober 2019 15:43 WIB
    Faisal Basri: Kandidat Menteri Harus yang Mau Bersinergi
    Ekonom Senior Faisal Basri. FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo.
    Jakarta: Ekonom Senior Faisal Basri berharap kabinet Presiden Joko Widodo di periode kedua diisi sosok yang kredibel terutama di bidang ekonomi. Sosok yang dipilih juga wajib mampu bersinergi penuh dengan kementerian dan lembaga lain dalam mencapai target pertumbuhan.

    "Kriterianya menurut saya yang paling penting kredibel, kompeten, dan mau kerja sama dalam sistem bahu membahu, jangan sendiri-sendiri," kata Faisal ditemui usai menghadiri diskusi di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 10 Oktober 2019.

    Faisal mengaku pembantu Presiden Jokowi di periode pertama belum harmonis. Bahkan ia mengkritik keras sikap Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang dinilai kerap memainkan peran potong kompas.

    "Pertanian ke kiri perdagangan ke kanan atau sebaliknya. Kemudian namanya menko itu bukan menteri pengambilalihan, nah ini jenis Luhut Panjaitan baiknya tidak digunakan lagi lah sama Pak Jokowi," ungkap Faisal.

    Sebagai sosok negarawan, kata Faisal, Presiden Jokowi juga harus mampu meredam tekanan dari partai politik pengusung dan kekuatan tertentu untuk memilih sosok yang tepat di kementerian sektor ekonomi. Kepentingan membangun bangsa lebih utama dibanding hanya sekedar bagi-bagi jabatan untuk membayar janji politik.

    "Mau politisi, akademisi, profesional yang penting kredibel dan kompeten mau kerja sama dalam sistem, tidak seenaknya seperti yang terjadi pada Luhut," ucapnya.

    Perombakan di kabinet periode kedua Presiden Jokowi juga perlu memperhatikan evaluasi periode sebelumnya. Faisal melanjutkan, pertumbuhan ekonomi yang meleset dari target perlu menjadi cambuk agar dilakukan perbaikan besar.

    "Pertumbuhan ekonomi jeblok dari target tujuh persen tapi hanya terealisasi lima persen, neraca perdagangan memburuk, faktor eksternal memburuk dan hutang melebihi dari rencana," paparnya.

    Pemerataan pembangunan juga masih jadi sorotan yang realisasinya masih jauh dari terget. Porsi serapan anggaran, kata Faisal, wilayah Indonesia Timur masih tetap kalah realisasinya  ketimbang di Pulau Jawa.

    "Sebanyak banyak uang digelontorkan ke daerah atau ke Indonesia Timur itu jauh lebih besar dari uang yang digelontorkan di Jawa, itu koreksi saya karena masih Jawa sentris," tuturnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id