Pengamat: Bulog Perlu Tingkatkan Loyalitas Konsumen

    Ilham wibowo - 30 November 2019 07:56 WIB
    Pengamat: Bulog Perlu Tingkatkan Loyalitas Konsumen
    Guru Besar Tetap Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin. FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo
    Jakarta: Langkah Perum Bulog yang ingin memperdalam segmen penjualan beras komersial dinilai perlu konsistensi dari kualitas produk yang ditawarkan. Beras premium Bulog yang dijual saat ini pun mesti lepas dari stigmatisasi pengalaman masyarakat dekade silam.

    Guru Besar Tetap Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin mengatakan strategi Bulog mengejar pasar eksklusif yakni aparatur negara harus diimbangi dengan penenerimaan yang baik. Beras Bulog harus bisa dipastikan rasanya enak dan sesuai kriteria selera segmen yang beragam di berbagai daerah.

    "Kalau pembagian beras Bulog untuk ASN seperti dulu saya disuruh milih saya pilih tidak, kalau sekarang saya terima tunjangan uang biar istri saya saja yang beli beras," kata Bustanul ditemui di Hotel Aston, Kuningan, Jakarta, Jumat, 29 November 2019.

    Kalangan ASN, personel TNI-Polri di era orde baru memang sempat menerima pasokan tunjangan pangan dalam bentuk beras dari Bulog. Akan tetapi, kualitas yang kurang baik membuat beras tersebut enggan untuk dikonsumsi dan akhirnya tunjangan berganti menjadi uang tunai.

    Untuk mengembalikan pasar yang hilang, Bulog perlu sekuat tenaga memperbaiki citra dengan mengedepankan beras sebagai produk berkualitas dan bukan lagi komoditas. Aparatur negara pun dengan sendirinya akan serentak membeli tanpa perlu harus menggulirkan aturan wajib.

    "Pemaksaan itu kan masuknya sudah komoditas, kalau sudah mengarah ke produk oke saya pilih yang ini," ujarnya.

    Bangak cara bisa dilakukan Bulog untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap produk unggulannya. Kolaborasi dengan asosiasi pengusaha ritel (Aprindo) pun jadi langkah yang positif sebagai penguatan nama Bulog sebagai pusat pengelola pangan nasional di mata masyarakat.

    "Dengan Bulog mulai menggunakan kemasan vakum itu pelan-pelan menggeser menjadi loyalty dari seorang konsumen. Teori pemasaran, marketing dan branding itu sangat penting," ungkapnya.

    Bulog yang ditangani sumber daya terbaik diyakini bisa berkembang dalam menjalankan tugas negara sekaligus mengelola bisnis komersial. Riset dan inovasi Bulog pun bisa terus dilakukan untuk bisa tetap bersaing secara sehat.

    "Sekarang pasar Bulog hilang karena BPNT, seharusnya ini kesempatan baik untuk Bulog mulai mengambil hati konsumer loyalty itu," pungkasnya.
     



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id