BPS Sebut Rokok Masih Jadi Penyebab Kemiskinan

    Suci Sedya Utami - 16 Juli 2019 07:49 WIB
    BPS Sebut Rokok Masih Jadi Penyebab Kemiskinan
    Kepala BPS Suhariyanto.(FOTO: Medcom.id/Kautsar Widya)
    Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan makanan dan rokok masih menjadi penyumbang utama garis kemiskinan di Indonesia. BPS mencatat sebesar 73,66 persen garis kemiskinan berasal dari makanan. Dari September 2018 ke Maret 2019 garis kemiskinan dari makanan naik 3,71 persen dari Rp302.022 per bulan menjadi Rp313.22 per bulan.

    Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan demikian juga dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu meningkat 6,25 persen. "Ini menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan harus betul-betul dijaga karena kalau bergejolak akan pengaruh besar ke kemiskinan," kata Suhariyanto, di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin, 15 Juli 2019.

    Pengaruh beras terhadap garis kemiskinan pada Maret 2019 sebesar 20,59 persen di perkotaan dan 25,97 persen di perdesaan. Angka ini naik dibandingkan dengan posisi September dan Maret 2018 yang masing-masing 19,54 persen dan 25,51 persen, serta 20,95 persen dan 26,79 persen.

    Disusul oleh rokok kretek filter sebesar 12,22 persen di perkotaan dan 11,36 persen di pedesaan. Angka ini meningkat dibandingkan dengan posisi September dan Maret 2018, masing-masing sebesar 10,39 persen dan 10,06 persen serta 11,07 persen dan 10,21 persen.

    Diikuti oleh telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, kopi bubuk dan kopi instan sachet, kue basah, tempe, dan tahu. Sementara untuk komoditi bukan makanan yang sumbangannya terhadap garis kemiskinan sebesar 26,34 persen terdiri dari perumahan, bensin, listrik, pendidikan, serta perlengkapan mandi.

    Pada Merat 2019, BPS merilis angka kemiskinan menurun dibandingkan dengan September 2018. Suhariyanto menyebutkan angka kemiskin pada Maret berada di posisi 9,41 persen. Dengan posisi tersebut menunjukkan jumlah orang miskin pada Maret sebesar 25,14 juta orang.

    Suhariyanto mengatakan angka kemiskinan tersebut menurun dibandingkan dengan posisi September yang sebesar 9,66 persen atau setara 25,67 juta orang. Artinya dari September ke Maret terjadi penurunan kemiskinan sebesar 530 ribu orang.

    Dia mengatakan penurunan kemiskinan terjadi di perkotaan dan perdesaan. Di perdesaan penurunan kemiskinan lebih cepat yakni turun 0,25 persen dari presentase angka kemiskinan 13,1 persen di September menjadi 12,85 persen di Maret. Sementara di perkotaan turun 0,20 persen dari 6,89 persen menjadi 6,69 persen.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id