Kemenperin Tingkatkan Kualitas Industri Perkakas Pertanian

    Ilham wibowo - 30 September 2019 14:21 WIB
    Kemenperin Tingkatkan Kualitas Industri Perkakas Pertanian
    Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih. FOTO: dok Kemenperin.
    Jakarta: Industri kecil dan menengah (IKM) alat perkakas pertanian terus didorong untuk meningkatkan produktivitas dan kualitasnya. Langkah pembinaan diupayakan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) agar berdaya saing menghadapi produk impor.

    Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan langkah-langkah strategis yang dijalankan yakni penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui bimbingan teknis dan pendampingan dan sertifikasi. Selain itu, Kemenperin juga bakat terus memfasilitasi bantuan mesin dan peralatan produksi.

    "Kami juga aktif mendorong perluasan pasar dan pengembangan kemampuan sentra sektor IKM tersebut," kata Gati melalui keterangan resmi, Senin, 30 September 2019.

    Gati mengungkapkan pihaknya pun telah memfasilitasi kolaborasi kemitraan antara pelaku IKM dengan industri skala besar. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat daya saing IKM dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku alat perkakas pertanian seperti produk cangkul.

    "Saat ini, kita berada dalam era kolaborasi, untuk mendapatkan keberhasilan dalam persaingan industri diperlukan adanya kolaborasi kemitraan dengan berbagai pihak, tidak terkecuali untuk pelaku IKM," paparnya.

    Pada Jumat, 27 September 2019, Gati turut menyaksikan penandatanganan Perjanjian kerja sama antara PT Indobaja Primamurni dengan Koperasi Industri Logam di Gresik, Jawa Timur. Pada kesempatan itu dilakukan pula peluncuran produk cangkul produksi Indobaja Primamurni.

    "Melalui perjanjian kerja sama ini tentunya memiliki dampak positif dan berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan daya saing industri dalam negeri khususnya pelaku IKM," tutur Gati.

    Ia mengapresiasi Indobaja Primamurni yang telah turut andil dalam pemenuhan alat perkakas pertanian. Produsen pengolah komoditas logam ini mampu mendukung produksi cangkul bagi IKM melalui penyediaan bahan baku produk setengah jadi sebesar 25 persen dari total produksi.

    "Komitmen ini merupakan salah satu langkah nyata untuk memperkuat struktur industri nasional," ungkapnya.

    Adapun Indobaja Primamurni saat ini bergerak di bidang produksi perkakas pertanian sejak 2016. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan dengan kapasitas produksi sebesar 1,5 juta pieces (pcs) per tahun ini meliputi egrek, cangkul, serta ke depannya akan diproduksi dodos kapak dan parang.

    Produk terbaru yang diluncurkan merupakan cangkul yang terbuat dari bahan baku special grade spring (SUP 9) berkapasitas 132 ribu pcs per bulan dan akan meningkat terus sesuai dengan permintaan pasar. Indobaja Primamurni menggunakan lini produksi dengan sistem proses kontrol sehingga memberikan jaminan kualitas yang berkelanjutan dan terstandardisasi.

    Gati menambahkan, pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) juga terus didorong dalam peningkatkan kualitas produk. Pada tahun 2018, telah dilakukan amandemen SNI cangkul melalui Sub Komtek SPT 21-01-S1, yaitu SNI 0331-2018 dengan dilengkapi dengan sosialisasi SNI tersebut di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    "Pada 2019 ini dilakukan pendampingan penerapan SNI cangkul bagi IKM logam selaku produsen cangkul di Sentra Pasir Jambu, Kabupaten Bandung," ungkap Gati.

    Sejalan dengan itu, pada Oktober 2019, Ditjen IKMA juga akan meluncurkan material center di Kabupaten Bandung untuk menjawab kebutuhan bahan baku alat perkakas pertanian bagi IKM di desa Mekar Maju.

    "Upaya itu merupakan pilot project yang ke depan diharapkan dapat diimplementasikan kepada sentra IKM logam lainnya," jelas Gati.

    Jumlah IKM alat perkakas pertanian di dalam negeri tercatat sebanyak 12.609 unit usaha pada 2017. Dari data tersebut, jumlah produsen cangkul diproyeksi sekitar 3.000 unit usaha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

    Sentra utama IKM produsen cangkul sendiri berlokasi di empat provinsi, yaitu Jawa Barat (Sentra Pasir Jambu, Cisaat dan Karawang), Jawa Tengah (Sentra Klaten dan Tegal), Jawa Timur (Sentra Sidoarjo dan Pasuruan) dan Banten (Sentra Baros). Keseluruhan sentra utama ini dengan total kapasitas produksi mencapai 517.882 unit per tahun.

    Menurut Gati, maju dan berkembangnya industri alat perkakas pertanian dalam negeri tidak terlepas dari peran dan kerja sama semua pihak. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan terus mendukung pelaku industri asosiasi dan lembaga terkait serta masyarakat untuk turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

    "Kami terus mengajak kepada semua pihak untuk turut mendukung dan menyukseskan keberadaan industri alat perkakas pertanian dalam negeri dengan mencintai, membeli dan memakai produk alat perkakas pertanian buatan industri nasional," tegasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id