Peluang Investasi Industri Elektronika dan Telematika

    Ilham wibowo - 15 Oktober 2019 18:23 WIB
    Peluang Investasi Industri Elektronika dan Telematika
    Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto. FOTO: dok Kemenperin.
    Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah fokus meningkatkan daya saing industri elektronika dan telematika agar bisa lebih kompetitif di kancah global. Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri elektronika jadi sektor yang mendapat prioritas pengembangan.

    "Kami aktif memperkenalkan potensi-potensi yang telah dimiliki industri elektronika konsumsi dan komponen, industri teknologi informasi dan komunikasi, serta industri software dan konten," kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 15 Oktober 2019.

    Harjanto mengungkapkan pihaknya terus berupaya menarik investasi dalam rangka menguatkan struktur industri elektronika di Tanah Air. Selain itu bertujuan untuk menghasilkan produk substitusi impor serta memacu agar bisa menembus pasar ekspor.

    "Hal ini juga sejalan dengan kebijakan mendorong pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN)," paparnya.

    Konsumsi dan komponen industri elektronika menjadi sektor yang terus berkembang secara konsisten dari tahun ke tahun. Aspek-aspek utama yang selalu dikembangkan oleh industri tersebut, antara lain berkaitan dengan kualitas produk yang meliputi standar keselamatan, efisiensi, dan lingkungan.

    "Arah pengembangan yang saat ini menjadi perhatian di seluruh dunia adalah transformasi dari produk konvensional menjadi smart appliances," ujarnya.

    Tujuan utama dari penerapan teknologi digital dalam peralatan elektronik adalah meningkatkan efisiensi dalam penggunaannya yang didasarkan dengan teknologi internet of things (IoT). Harjanto pun menyampaikan agar produk industri elektronika dalam negeri dapat bersaing di pasar global, diperlukan kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D) dan ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) yang kompoeten.

    "Guna mendukung hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan super deduction tax yang dapat dimanfaatkan industri yang berinisiatif untuk meningkatkan kapabilitasnya," ucapnya.

    Sementara itu mengenai industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK), Harjanto mengemukakan sektor tersebut memiliki karakteristik perkembangan teknologi tercepat. Dinamika ini merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan oleh pelaku industri dalam negeri untuk dapat menghasilkan produk-produk IT Solution.

    "Making Indonesia 4.0 yang merupakan program pemerintah untuk mendorong penerapan teknologi digital agar bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas, didasarkan pada penerapan teknologi IoT. Pengembangan IoT Devices tidak hanya didasarkan pada teknologi, tetapi juga kreativitas pembuatnya dalam mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh target customer-nya," paparnya.

    Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin R. Janu Suryanto mengungkapkan penurunan impor produk elektronik pada tahun ini dinilai menjadi momentum yang baik untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan di sektor tersebut. Selain itu, pihaknya juga gencar memacu industri elektronika dalam negeri dapat memperluas akses pasarnya ke mancanegara.

    "Kami terus mendorong ekspor produk elektronik lokal. Salah satu produk, berupa air purifier, hasil karya perusahaan nasional sedang dalam masa percobaan untuk ekspor ke Amerika Serikat," ujarnya.

    Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Januari-Agustus 2019, nilai ekspor mesin/peralatan listrik mencapai USD5,55 miliar. Sedangkan, nilai impor mesin/peralatan listrik mencapai USD12,60 miliar atau menurun sekitar 10,97 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

    Pada triwulan terakhir 2019, Janu mengatakan pihaknya masih optimistis mengejar peningkatan ekspor produk elektronika. Pasalnya, sejumlah perusahaan industri elektronika di Batam, seperti PT Satnusa Persada dan PT Pegatron Technology Indonesia, baru-baru ini mendapatkan kontrak baru untuk memasok produknya ke Amerika Serikat.

    "Peluangnya masih terbuka karena berkurangnya pasokan produk elektronika dari Tiongkok ke Amerika Serikat. Selain itu, PT Panasonic Manufacturing Indonesia baru-baru ini memperluas basis ekspornya ke Taiwan. Bahkan, LG Electronics Indonesia, juga berencana untuk memasok AC portable ke Amerika Serikat dalam jumlah yang besar," paparnya.

    Lebih lanjut, Janu menegaskan, pemerintah juga fokus mendorong industri elektronik di dalam negeri agar tidak hanya terkonsentrasi pada perakitan, tetapi juga terlibat dalam lingkaran rantai pasok bernilai tambah tinggi. Langkah strategis ini diwujudkan antara lain melalui peningkatan investasi.

    Sepanjang 2018, nilai investasi industri elektronik menyentuh di angka Rp12,86 triliun, naik dibanding 2017 sebesar Rp7,81 triliun. Investor tersebut di antaranya dari industri semikonduktor dan komponen elektronik, industri peralatan listrik rumah tangga, industri komputer, barang elektronik, dan optik, serta industri peralatan teknik.

    "Tahun ini, ditargetkan ada beberapa investasi baru yang akan masuk, yang secara total nilainya mencapai Rp1,3 triliun dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan sebanyak 248,5 ribu orang," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id