Insinyur Indonesia Siap Dukung Pembangunan Infrastruktur Berkualitas

    Ade Hapsari Lestarini - 11 Oktober 2016 18:17 WIB
    Insinyur Indonesia Siap Dukung Pembangunan Infrastruktur Berkualitas
    Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet Dwi Pramadia)
    medcom.id, Jakarta: Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Heru Dewanto siap mendukung pembangunan infrastruktur berkualitas, dengan mengutamakan keselamatan dan kenyamanan masyarakat. Program pembangunan pemerintahan Jokowi-JK yang menitikberatkan pada pembangunan dan pemerataan infrastruktur di Tanah Air diharap mampu mengakselerasi perekonomian dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

    "Namun pembangunan infrastruktur multisektor ini perlu didukung pula dengan kesiapan dan jaminan kualitas SDM yang ada saat ini," ujar Heru, dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (11/10/2016).

    Dia menjelaskan, UU Keinsinyuran Nomor 11 tahun 2014 merupakan langkah awal untuk menata profesi keinsinyuran sehingga mampu mendukung target-target pembangunan infrastruktur pemerintah.

    "Penataan ini penting karena infrastruktur adalah fasilitas umum yang berdampak pada masyarakat luas. Dengan UU Keinsinyuran ini, nantinya setiap insinyur di Indonesia harus terdaftar dan memiliki sertifikasi melalui PII," bebernya.

    Dengan demikian, Indonesia tidak hanya membangun infrastruktur saja, namun quality infrastructure. Heru menambahkan, sertifikasi ini tidak hanya bertujuan melindungi masyarakat pengguna infrastruktur, namun juga melindungi profesi insinyur.

    "Bayangkan apabila ada jalan yang rusak, atau JPO ambruk seperti di Pasar Minggu September lalu, kemudian memakan korban jiwa, tanpa peraturan yang jelas, maka tidak ada yang mau bertanggung jawab. Nah dengan sertifikasi ini, kami ingin agar profesi Insinyur juga berkontribusi terhadap keselamatan dan kenyamanan publik, membangun infrastruktur yang berkualitas, dan dapat dipertanggungjawabkan," tegasnya.

    Target pembangunan infrastruktur merupakan yang terbesar sepanjang sejarah, Indonesia saat ini masih membutuhkan 120.000 insinyur untuk lima tahun ke depan. Sementara minat mahasiswa menuntut ilmu di fakultas teknik terus menurun, bahkan tingkat partisipasinya jauh di bawah negara-negara di kawasan.

    Insinyur menghadapi MEA

    Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ujar dia, kekhawatiran yang muncul adalah dengan demand yang sedemikian besar dan supply yang tidak mencukupi, maka Indonesia akan kebanjiran tenaga kerja asing, khususnya insinyur-insinyur asing.

    "Justru sertifikasi ini akan menghindari hal seperti itu dan bisa melindungi insinyur-insinyur dalam negeri. Karena Insinyur-insinyur dari luar itu tidak bisa praktek begitu saja di Indonesia tanpa sertifikasi," tuturnya.

    Oleh karena itu, rapat pimpinan nasional (rapimnas) PII 2016 bertema "Melaksanakan Kerja Sama Program Profesi Insinyur" yang digelar 10-11 Oktober 2016 di Jakarta ini merumuskan tata kelola organisasi, sehingga PII siap untuk mendukung program pembangunan infrastruktur pemerintah.

    PII pun berharap dapat menyediakan sejumlah insinyur yang berkualitas untuk membangun infrastruktur yang sedang digalakkan pemerintah dengan total anggaran Rp5.000 triliun selama lima tahun.

    "Minimal Indonesia dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan insinyur dari insinyur-insinyur nasional, mulai lima hingga 10 tahun mendatang," tambah Ketua Umum PII Hermanto Dardak.

    Tantangan Insinyur Indonesia

    Insinyur Indonesia memiliki beragam tantangan yang harus dihadapi, termasuk kebutuhan insinyur nasional untuk membangun Indonesia. Minat yang rendah terhadap profesi ini juga menjadi perhatian PII.

    "Jumlah relatif mahasiswa di bidang teknik dan pertanian di Indonesia saat ini hanya sekitar 15 persen. Bandingkan dengan Malaysia (25 persen) dan Thailand (26 persen). Di masa depan, kekurangan ini akan menjadi ancaman serius yang dapat membuat daya saing Indonesia semakin menurun," jelas Hermanto.

    Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, PII mendorong mewujudkan tiga peran insinyur dalam membangun bangsa yaitu peran membangun, peran mendukung manajemen aset, dan peran melaksanakan inovasi.

    "Peran untuk mendukung manajemen aset atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai perawatan dan pemantauan tidak bisa diremehkan. Jika ini tidak dilakukan, maka berbagai bencana dapat terjadi. Contohnya ambruknya jembatan Cipunegara di Subang pada 2004," pungkas Hermanto.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id