Pinjaman Online Disebut Efektif Perdalam Pasar Keuangan

    Husen Miftahudin - 11 November 2019 18:22 WIB
    Pinjaman <i>Online</i> Disebut Efektif Perdalam Pasar Keuangan
    Ilustrasi. Foto : AFP.
    Jakarta: Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Izzudin Al Farras menyebut kehadiran industri fintech peer to peer lending alias pinjaman online mampu memperdalam pasar keuangan di Indonesia. Keberadaan pinjaman online bahkan mampu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebanyak Rp60 triliun, menyerap 362 ribu tenaga kerja, dan menurunkan angka kemiskinan hingga 0,7 persen.

    "Bisnis financial technology (fintech) menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Fintech semakin relevan sebagai sarana untuk memperdalam pasar keuangan di Indonesia, terutama dalam menjangkau masyarakat yang belum terlayani lembaga keuangan formal (unbanked society)," ujar Farras dalam pemaparan hasil riset Indef bersama AFPI di Hotel JS Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin, 11 November 2019.

    Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai pinjaman melalui fintech mencapai Rp44,8 triliun per Juni 2019 dengan jumlah transaksi peminjam (borrower) menembus 9,7 juta akun. Persebaran pinjaman pintech ke wilayah luar Jawa juga meningkat hingga 107 persen (year on year).

    Menurutnya, pinjaman online berpotensi memiliki peran besar dalam meratakan kue ekonomi, khususnya untuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Salah satu hasil yang terlihat adalah peningkatan pendapatan petani di desa sebesar 1,23 persen dan pekerja perdagangan di kota sebesar 2,59 persen.

    "Fintech peer to peer lending juga turut meningkatkan pengeluaran rumah tangga, seperti pengeluaran rumah tangga pengusaha pertanian yang meningkat 1,34 persen, rumah tangga golongan rendah perkotaan meningkat 1,34 persen, dan rumah tangga golongan atas perkotaan meningkat 1,77 persen," jelas Farras.

    Di sisi lain, Farras berharap kontribusi pinjaman online terhadap perekonomian nasional akan terus meningkat seiring dengan semakin berkembangnya bisnis fintech peer to peer lending. Pasalnya, dia bilang, prospek investasi fintech ke depannya cukup menjanjikan, baik di Indonesia maupun di ASEAN.

    Berdasarkan data Google-Temasek (2018), investasi untuk sektor fintech di ASEAN mencapai Rp6,93 triliun, dan di Indonesia mencapai Rp1,37 triliun. Nilai investasi fintech, baik di Indonesia maupun di ASEAN, menempati urutan ketiga besaran investasi untuk ekonomi digital setelah ride hailing dan e-commerce.

    "Ke depannya, fintech, termasuk fintech lending, diprediksi akan terus berkembang dengan kemunculan para pemain baru dan inovasi jenis-jenis penyaluran kredit baru," beber dia.

    Farras juga menyampaikan salah satu yang menjadi hambatan pinjaman online untuk berkembang adalah keberadaan fintech illegal yang memunculkan shadow banking. Oleh karena itu, sebut dia, integrasi fintech peer to peer lending dengan perbankan harus dilakukan untuk meminimalisasi shadow banking.

    "Keberadaan shadow banking ini tentunya sangat merugikan perbankan dan fintech legal. Selain itu, semua pihak perlu bekerja sama dalam memberantas fintech illegal. Harus dilakukan pengawasan yang lebih ketat dan edukasi kepada masyarakat," harap Farras.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id