Inovasi Produk Tembakau Alternatif Tak Boleh Dihambat

    Eko Nordiansyah - 24 September 2019 01:09 WIB
    Inovasi Produk Tembakau Alternatif Tak Boleh Dihambat
    Ilustrasi. Kartopawiro, 90, memetik daun tembakau di perkebunan tembakau di Desa Jrakah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Foto: MI/Immanuel Antonius
    Jakarta: Berbagai inovasi, termasuk pengembangan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan tidak boleh dihambat. Pengembangan produk ini dinilai sebagai salah satu inovasi di bidang teknologi dan kesehatan publik yang didukung oleh berbagai penelitian ilmiah. 

    Pengamat Kebijakan Publik Adi Sastra Wijaya mengatakan, inovasi harus diapresiasi dan tidak boleh diatur terlalu ketat. Bahkan, pemerintah semestinya berani memberikan insentif baik dalam bentuk fiskal, seperti pengurangan pajak atau cukai, maupun insentif non-fiskal, seperti kemudahan pelayanan perizinan, kepabeanan, dan lainnya.

    "Berdasarkan penerapan metode pengurangan risiko pada tembakau, produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, dapat digunakan sebagai solusi untuk mengatasi masalah rokok di Indonesia. Pemerintah harus terbuka dengan fakta ini," kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 23 September 2019.

    Menurutnya, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menghadang inovasi dari produk tembakau alternatif. Apalagi, hal tersebut turut membuka peluang lapangan kerja karena bahan dasar dari produk tembakau alternatif, khususnya produk tembakau yang dipanaskan, masih berupa tembakau dari petani lokal.

    Adi menyarankan agar pemerintah bersama pihak swasta harus mendorong berbagai penelitian lokal berbasis ilmiah untuk memperkuat berbagai inovasi yang dapat mengurangi risiko kesehatan di masyarakat. Hal ini dikarenakan jumlah perokok di Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia. 

    "Rokok juga merupakan penyebab tingginya penyakit berbahaya, seperti jantung, kanker, dan paru-paru. Ini harus terus disosialisasikan dan didorong agar para ahli dan akademisi dari Indonesia bisa menjalankan penelitian yang kredibel," tegas Adi.

    Dalam Asia Harm Reduction Forum (AHRF) Ke-3 di Seoul, Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama WHO Tikki Pangestu mengatakan, Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar dalam pengurangan risiko kesehatan, khususnya dari rokok. Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok dan produsen tembakau terbesar di dunia. 

    Dirinya menambahkan, ada enam tantangan yang perlu diselesaikan terkait pengurangan risiko dari kebiasaan merokok. Pertama, kurangnya informasi kepada pemerintah terkait strategi pengurangan risiko terhadap rokok yang telah dipraktikan oleh berbagai negara maju. Kedua, pandangan negatif dari WHO terhadap produk tembakau alternatif. 

    Ketiga, produk tembakau masih menjadi penggerak politik dan ekonomi karena cukai rokok menyumbang enam persen dari total penerimaan negara. Keempat, kekhawatiran masyarakat tentang produk tembakau alternatif yang dianggap memiliki bahaya tersendiri. Kelima, jangkauan Electronic Nicotine Delivery System (ENDS) sebagai alternatif dari rokok yang masih rendah di Asia, termasuk di Indonesia. Keenam, kurangnya penelitian terkait produk tembakau alternatif. 

    "Padahal, penelitian memiliki peran penting untuk membuktikan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok. Sehingga perlu ada terobosan langkah sehingga upaya mengurangi risiko kesehatan dari konsumsi rokok bisa dilakukan," pungkasnya.




    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id