Asosiasi Siap Bertarung dengan Baja Impor Tiongkok

    Annisa ayu artanti - 03 September 2019 18:11 WIB
    Asosiasi Siap Bertarung dengan Baja Impor Tiongkok
    Ilustrasi baja. FOTO: AFP.
    Jakarta: Perkembangan industri baja dalam negeri diprediksi akan terus bergeliat meskipun harus bertarung dengan baja impor Tiongkok.

    Demikian disampaikan Direktur Ttama salah satu produsen baja dalam negeri PT Gunung Raja Paksi Tbk Alouisius Maseimilian.

    Ia mengatakan, meskipun saat ini Indonesia merupakan net importir baja, para perusahaan baja dalam negeri siap menahan arus impor baja dari negeri Tirai Bambu tersebut dengan berbagai cara. Dua cara di antaranya adalah pengaturan suplai dan penerapan standar baja yang masuk ke Indonesia.

    "Suplai tersebut diharapkan dapat menahan laju impor yang masuk dan juga memperbaiki sertifikasi yang menjadi peraturan Standar Nasional Indonesia (SNI)," kata Alouisius saat konferensi pers di Ballroom Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 3 September 2019.

    Dia menjelaskan, saat ini permintaan baja dalam negeri belum sebanding dengan produksinya. Menurutnya, masih ada jarak yang besar antara suplai dan permintaan baja dalam negeri sehingga membuat baja Tiongkok bisa masuk ke industri dalam negeri dengan leluasa.

    "Indonesia itu masih net importir baja. Total 2018 kekurangan 5,08 juta metrik ton," sebut dia.

    Untuk itu, katanya, Gunung Raja Paksi dalam melakukan pemasaran baja masih berfokus pada pasar dalam negeri. Ia menyebutkan, sekitar 94 persen dari produksi dijual di dalam negeri dan sekitar 3-4 persen baru dijual ke luar negeri seperti Filipina, Malaysia, Australia, dan Amerika Serikat.

    "Penjualan kami 2018, pendapatan USD267 juta, ekspor komponen USD47 juta. Jadi sangat kecil (ekspor)," sebut dia.

    Ia melihat potensi pasar baja Indonesia masih sangat besar. Menurut data The Indonesian Iron & Steel Association (IISIA) setiap tahunnya konsumsi baja di Indonesia terus meningkat. Pada 2018 sebesar 57 kilogram (kg) per kapita. Lalu pada 2019 menjadi 61 kg per kapita dan pada 2020 diperkirakan akan menjadi 84 kg per kapita.

    Perseroan menargetkan laba sampai akhir tahun sebesar USD26 juta. "Total untuk tahun ini USD26 juta, kalau dilihat dari tahun sebelumnya turun karena berbagai kondisi tadi (fluktuasi harga bijih besi dan tahun politik)," jelas dia.

    Tahun ini perusahaan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar USD150 juta untuk pengerjaan proyek blast furnace. Hingga semester I-2019 ini, capex yang telah terserap sebesar USD50 juta-USD60 juta untuk meningkatkan daya listrik dan modernisasi fasilitas produksi perusahaan.

    "Saat ini untuk membuka pabrik baru belum ada rencana. Tapi yang kita lakukan adalah modernisasi pabrik karena sudah berdiri 30 tahun," pungkas dia.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id