Garuda: Korona hingga Penyetopan Jemaah Umrah Pukulan Beruntun

    Husen Miftahudin - 27 Februari 2020 17:16 WIB
    Garuda: Korona hingga Penyetopan Jemaah Umrah Pukulan Beruntun
    Virus korona menjadi pukulan bagi bisnis maskapai pesawat terbang. Foto: dok MI.
    Jakarta: Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengakui merebaknya virus korona atau Covid-19 di sejumlah negara membuat industri penerbangan global mengalami cobaan berat. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang menunda penerimaan jemaah umrah dari Indonesia.

    "Tadi pagi kita dapat pukulan baru lagi, Saudi Arabia menutup kunjungan umrah dan juga membatasi kunjungan ke Masjid Nabawi," ujar Irfan dalam konferensi pers di gedung Garuda Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis, 27 Februari 2020.

    Soal korona, jelasnya, Garuda Indonesia menutup sementara rute penerbangan ke negara-negara endemik dan terdampak. Maskapai penerbangan pelat merah itu menutup seluruh penerbangan dari dan ke Tiongkok.

    Hong Kong juga demikian, meski rute penerbangan Hong Kong-Jakarta masih tetap dibuka. "Singapura kita tadinya sehari 10 flight (penerbangan), hari ini tinggal tiga flight saja," papar dia.

    Terkait penyetopan sementara jemaah umrah ke Arab Saudi, Irfan kaget lantaran kebijakan tersebut langsung berlaku hari itu juga. Padahal penerbangan pertama berhasil terbang, namun penerbangan ke Arab Saudi selanjutnya gagal berangkat.

    Garuda Indonesia punya empat jadwal penerbangan setiap hari ke Arab Saudi, dua ke Jeddah dan dua ke Madinah. Apalagi, seluruh penerbangan tersebut menggunakan pesawat berbadan besar dan lebar yang menampung banyak penumpang.

    "Mengenai kinerja maskapai terhadap korona ini tidak bisa kami menafikkan bahwa memang ada penurunan pendapatan yang cukup signifikan karena penutupan beberapa rute tersebut. Apalagi ditambah dengan kondisi saat ini (penundaan sementara penerimaan jemaah umrah Indonesia ke Arab Saudi)," cetus Irfan.

    Menurut Irfan, industri penerbangan saat ini merupakan kali pertama dalam sejarah mengalami situasi berat seperti sekarang ini. Pendapatan perusahaan maskapai penerbangan melorot drastis lantaran keseringan parkir di bandara.

    "Coba kalian jalan-jalan ke Hong Kong, Cengkareng, Singapura, dan segala macam, lebih banyak pesawat parkir daripada terbang. Nah pesawat parkir itu bukan kaya mobil parkir, mayoritas pesawat yang ada di seluruh dunia itu leasing, jadi parkir itu dia bayar terus tapi dia enggak berproduksi, tidak ada pemasukan," urai dia.

    Sementara, ucap Irfan, industri penerbangan ini merupakan industri berbasis margin yang sangat tipis karena tingkat kompetisi yang tinggi. "So, kita harus kreatif plus banyak-banyak berdoa," tutup dia.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id