Petani Asing Banyak Belajar Ilmu Petani Tembakau di Lombok

    Dian Ihsan Siregar - 07 September 2017 20:32 WIB
    Petani Asing Banyak Belajar Ilmu Petani Tembakau di Lombok
    Tembakau NTB. MTVN/DIan Ihsan Siregar.
    medcom.id, Lombok: Pulau Lombok semakin dilihat oleh dunia internasional. Banyak petani dari sejumlah negara di dunia yang mempelajari produk tembakau yang dibuat oleh petani Lombok. 

    "Ada dari Malaysia, Myanmar, Filipina, Vietnam juga," kata Pelatih Training Farm Desa Puyung Kuswanto, saat ditemui media di lokasi ‎Training Farm‎ Desa Puyung, Lombok Tengah, Kamis 7 September 2017.

    Kuswanto mengaku, petani yang datang dari luar negeri secara rombongan dengan jumlah satu rombongannya terdiri dari sekitar 10 orang. Biasanya, mereka datang ke lokasi training Farm Desa Puyung dalam setahun sekali.

    Pada saat di training farm, para petani belajar terkait pengelolaan perkebunan tembakau yang efisien dan pengembangan benih tembakau yang berkualitas. Petani asing yang datang ke Lombok ingin mengetahui pengembangan tembakau jenis virginia hibrida di Asia Tenggara.

    "Agribisnis di Lombok itu sangat hebat, kalau biasanya kita belajar ke Thailand, Malaysia, atau Taiwan soal pertanian. Itu terbalik kalau tembakau mereka yang belajar di sini," tegas Kuswanto yang juga menjadi Station Manager Lombok PT Sadhana Arifnusa‎.

    Bukan hanya itu, Training Farm Desa Puyung pun menjadi tempat pelatihan tembakau bagi Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas).

    Hingga saat ini, dia mengaku, produksi benih Tembakau Virginia di Lombok mencapai 160 kilogram (kg) per tahun. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan 15 ribu ha lahan butuh 105 kg tembakau Virginia tiap tahunnya. 

    Biaya benih tembakau tiap hektarnya, bilang Kuswanto, tidak perlu merogoh kocek lebih dalam. Pasalnya, dengan mengeluarkan dana sebesar Rp400 ribu, petani bisa memperoleh 7-8 gram benih tembakau yang bisa ditanam di lahan seluas satu hektar.

    "Benihnya satu hektar butuh 7-8 gram hanya Rp400 ribu. Kalau satu kilogramnya sebanyak Rp50 juta sampai 60 juta lah biaya yang harus dikeluarkan. Kadang-kadang pembeli cerewet," jelas Kuswanto.

    Benih tembakau yang diolah perusahaan pada April 2017 memiliki tiga varietas, yaitu GL26H, GF318, NC471‎. 

    "Sebelumnya masyarakat menggunakan NC297 dan NC102. Kedua varietas itu telah dikeluarkan sejak tahun 2008. Berbeda dengan tiga varietas yang di atas baru kami keluarkan," tukas Kuswanto. 




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id