comscore

Ironis, Ceruk Pasar Sagu Lokal Masih Kecil

Kautsar Widya Prabowo - 27 Juli 2018 15:24 WIB
Ironis, Ceruk Pasar Sagu Lokal Masih Kecil
Tabaha (makanan tradisional Simeuleu Tengah, Aceh) yang terbuat dari tepung sagu. (FOTO: MI/Amiruddin)
Jakarta: Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Seluruh Indonesia (Fokus-Kapassindo) menyatakan masih terdapat kendala pada komoditas sagu dalam negeri, salah satunya masih kecilnya pasar sagu di Indonesia.

Kondisi tersebut dinilai ironis, seiring dengan Indonesia dianggap sebagai sumber penghasil sagu terbesar di dunia. Ketua Fokus-Kapassindo Irwan menilai dengan kondisi tersebut dikhawatirkan petani sagu beralih untuk menanam komoditas yang lebih menguntungkan.
"Sagu sebagai sumber pangan alternatif merupakan sebuah komoditas pertanian yang tersedia melimpah, tapi sagu belum mendapatkan tempat sebagai tuan rumah di negaranya sendiri," ujarnya dalam sambutan Pembukaan Gelar Pangan Nusantara 201, di Balai Kartini, Jakarta, Jumat, 27 Juli 2018.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dilatarbelakangi minimnya masyarakat yang menjadikan sagu sebagai pangan alternatif, sehingga permintaan tidak meningkat.

"Semakin hari tidak meningkat, statis, menyebabkan harga jual sagu dari waktu ke waktu tidak meningkat, cenderung menurun saat ini," tambahnya.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) diharapkan dapat menggandeng Perum Bulog yang memiliki peran dalam logistik pangan demi menciptakan ruang pasar yang besar.

"Saya pikir Kementan bisa menggandeng Bulog untuk membeli sagu sebagaimana Bulog membeli beras," imbuhnya.

Melalui langkah tersebut, maka akan membawa dampak positif sehingga membuat harga sagu ditingkat petani relatif stabil, serta secara tidak langsung akan merangsang masyarakat untuk melirik sagu sebagai pengganti beras.

"Petani sagu juga dapat mengembangkan sagu, agar tidak kalah bersaing dibanding gandum, jagung, ketela, kedelai dan lain-lain," tuturnya.

Lebih lanjut, Bupati Mentawai tersebut memperkirakan kedepannya lahan pertanian beras dan padi akan menurun. Di sisi lain jumlah penduduk terus bertambah. Maka pasokan beras dan padi akan mengalami krisis. Mau tidak mau pemerintah harus segera menyosialisasikan sagu untuk diminati sebagai sumber pangan alternatif.

"Sagu sebagai komoditas Indonesia dengan potensi melimpah harus didorong untuk berkembang, kedepannya jenis makanan dari sagu dapat diterima masyarakat," pungkasnya.

 

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id