Dukuh Atas Jadi Kawasan MRT Paling Mahal

    Desi Angriani - 22 November 2019 13:25 WIB
    Dukuh Atas Jadi Kawasan MRT Paling Mahal
    Ilustrasi pengguna MRT. Foto: MI/Pius Erlangga.
    Jakarta: PT Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta menyiapkan lima kawasan Transit Oriented Development (TOD) atau kawasan berorientasi transit (KBT) di sepanjang Koridor Lebak Bulus-Bunderan HI. Nilai properti di lima kawasan itu ditaksir tumbuh sebesar Rp242 triliun.

    Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan Dukuh Atas menjadi area termahal lantaran rancang bangun hunian dapat dibuat secara vertikal dan horizontal.

    "Modal TOD, pendapatan hampir Rp240 triliun jadi dibagi lima. Dukuh Atas yang mau jadi hunian vertikal dan horizontal, dekat kali, stasiun arah utara," ujarnya dalam kelas Fellowship MRT Jakarta di Gedung Wisma Nusantara, Jakarta, Jumat, 22 November 2019.

    Ia menjelaskan nantinya Dukuh Atas dikembangkan sebagai kawasan padat dengan mengoptimasi lahan untuk fungsi perumahan dan transit, tepian air sebagai ruang publik, interkoneksi transit, serta area transisi menuju KCB Menteng.

    "Dukuh Atas ada owner di sekitar itu, tertarik karena efek KBT itu land captured value-nya dia naik. Apalagi di set up jadi KBT, makanya dia butuh ruang ke atas dan izin kita, itu cukup mahal dan dana itu untuk membiayai kawasan itu, jadi enggak perlu dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah)," tuturnya.

    Sementara itu, keempat kawasan TOD lainnya seperti Istora Senayan, Blok M ASEAN, Fatmawati dan Lebak Bulus memiliki nilai properti yang hampir sama. Keempatnya akan dibangun vertikal house untuk menyiasati ketersediaan lahan.

    Tuhiyat menyebut pembangunan lima kawasan TOD itu bakal memakan waktu sekitar empat tahun. Adapun Pergub yang memberikan kewenangan terhadap MRT sebagai master developer akan dikeluarkan akhir tahun.

    "Butuh waktu 3-4 tahun. Akhir tahun Pergubnya keluar," pungkas dia.

    Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta Muhammad Effendi sebelumnya menjelaskan konsep TOD di lima kasawan itu dapat menumbuhkan pembangunan 34,047 unit rumah layak huni, 21 hektare area publik, 149,1 kilometer jalan pedestrian, 73,9 hektar ruang terbuka publik, serta mengakomodasi 639 ribu karyawan/pekerja.

    "Pengembangan 34.047 unit rumah layak huni, area publik hingga menciptakan lapangan pekerjaan baru,"  katanya.

    Selanjutnya, pembangunan itu turut berdampak terhadap pengurangan 153.776 ruang parkir dengan nilai tambah ekonomi sebesar Rp8,3 triliun per tahun. Di sisi lain, beroperasinya MRT dipercaya mengurangi kerugian finansial akibat kemacetan dan polusi sebesar Rp65 triliun per tahun.

    "Untuk mengurangi kemacetan, mengurangi polusi, mengurangi biaya yang 60 triliun per tahun. Itu biaya yang sangat mahal," ungkap Effendy.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id