Implementasi RCEP Bisa Kurangi Defisit Perdagangan

    Ilham wibowo - 22 Oktober 2019 19:55 WIB
    Implementasi RCEP Bisa Kurangi Defisit Perdagangan
    Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya.
    Jakarta: Penyelesaian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) telah memasuki masa-masa akhir. Indonesia sebagai negara inisiatif pun diyakini akan memperoleh banyak manfaat dari terwujudnya pakta perdagangan regional terbesar di dunia tersebut.

    Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo mengaku tak ambil pusing dengan tudingan beberapa pihak yang merespons negatif perjanjian tersebut. Implementasi RCEP disebut hanya akan menjadi pintu masuk bagi barang-barang luar negeri ke Indonesia.

    Menurut Iman, pada tahun-tahun pertama implementasi RCEP memang akan membuat Indonesia melakukan banyak impor. Namun, kegiatan itu dilakukan untuk memperkuat industri dalam negeri. Barang-barang yang didatangkan pun berupa barang modal berupa mesin-mesin atau bahan baku produksi.

    "Intinya, kalau kita selalu melihat Indonesia itu seperti punya pintu untuk bertahan pada garis serangan impor, kalau konsepnya begitu Indonesia akan semakin tertinggal," kata Iman ditemui di kompleks perkantoran Kemendag, Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019.

    Indonesia, lanjut dia, tidak bisa terus bermain aman, menutup diri dari perdagangan global karena itu hanya akan membuat negara semakin jauh tertinggal. Di masa mendatang, perdagangan dunia akan semakin terbuka dan fleksibel dengan adanya teknologi digital.

    "Pertahanan paling bagus itu menyerang. Di masa depan, pasar domestik dan global itu tidak ada batasnya apalagi jika sudah bicara digital ekonomi," ujar Iman.

    Sepuluh tahun dari sekarang, sambung dia, akan banyak produk-produk yang dikirim lintas dunia hanya dengan menggunakan mesin pencetak tiga dimensi.

    "Sekarang saja sudah banyak produk yang dijual melalui 3D printing. Kalau kita selalu melihat dari sisi impor, Indonesia akan makin tertinggal. Kita harus memanfaatkan perdagangan terbuka untuk mengambil keuntungan," tuturnya.

    Dengan melakukan banyak impor barang modal, Indonesia akan memiliki industri yang semakin besar dan kuat hingga akhirnya mampu menghasilkan banyak produk untuk kemudian diekspor dan menjadi sumber devisa negara. Sehingga, pada akhirnya, perjanjian dagang seperti RCEP menjadi gerbang bagi Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekspor di masa mendatang.

    "Kita ini anggota G20, diprediksi jadi negara dengan ekonomi terbesar ke tujuh di 2030 dan terbesar keempat di 2050, tetapi sikap kita seperti orang ketakutan. Kita jadi katak dalam tempurung. Tidak bisa seperti itu. Jika tidak kunjung mengamankan pasar-pasar yang besar melalui perjanjian dagang, Indonesia akan kehilangan momentum," jelasnya.

    Maka itu, ucap Iman, masyarakat harus mulai mengubah pola pikir bahwa kegiatan impor itu haram. Impor boleh saja dilakukan demi menguatkan industri dalam negeri sehingga negara bisa mengambil manfaat besar dalam rantai perdagangan dunia.

    "Perundingan tidak bisa menunggu. Pasar akan direbut negara lain kalau tidak segera kita amankan. Itu yang sekarang harus kita lakukan," tegas Iman.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id