Harga Bawang Terus Dikendalikan

    09 Mei 2019 10:14 WIB
    Harga Bawang Terus Dikendalikan
    Ilustrasi pedagang bawang. (FOTO: MI/BENNY BASTIANDY)
    Jakarta: Saat ini, seluruh instansi pemerintah yang terkait sektor pangan terus berupaya meredam lonjakan harga komoditas hortikultura terutama bawang merah dan bawang putih. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengungkapkan pihaknya telah melaksanakan operasi pasar di beberapa titik sebelum Ramadan tiba.

    Menurut Agung, upaya yang dilakukan melalui operasi pasar dan gelar pangan murah yang menjual bawang putih mampu mengerek harga sehingga terus turun. Kendati demikian, ia mengatakan efek positif tidak bisa langsung dirasakan. Butuh beberapa hari agar harga betul betul kembali ke level normal.

    "Selain dari sisi produksi, persoalan juga datang dari sisi distribusi. Tetapi pemerintah sudah bergerak dan kita harap akan berangsur turun dalam beberapa hari terakhir," ujar Agung di Jakarta, Rabu, 8 Mei 2019.

    Berdasarkan pantauan di Pasar Palmerah, harga bawang merah memang sudah berangsur turun dari Rp40 ribu per kilogram (kg) pekan lalu menjadi Rp35 ribu per kg. Namun, harga bawang putih masih stabil tinggi hingga Rp50 ribu per kg. Agung mengatakan lonjakan yang saat ini terjadi karena permintaan pangan sangat tinggi. Namun, itu sifatnya hanya sesaat dan akan kembali pulih dalam waktu dekat.

    Sementara itu, terkait ekspor bawang merah yang menyebabkan kurangnya pasokan di dalam negeri, pihak Kementerian Perdagangan mengaku tidak dilibatkan.

    Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengungkapkan ekspor pangan bisa dilaksanakan asalkan kementerian teknis terkait, dalam hal ini Kementan, sudah memastikan ketersediaan pasokan dalam kondisi aman.

    "Kalau untuk ekspor memang kita mudahkan karena semangatnya untuk menarik devisa," ujar Oke, Rabu, 8 Mei 2019.

    Jadi, lanjutnya, jika Kementan berani mengambil keputusan ekspor, itu berarti mereka sudah memastikan bahwa barang di dalam negeri tersedia dalam jumlah besar. "Karena yang tahu berapa banyak produksi itu Kementan," lanjutnya.

    Sebelumnya pengamat ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal mengkritik kebijakan Kementan yang mengeks-por bawang merah. Menurut dia, jika bisa sampai melaksanakan ekspor, seharusnya ada stok yang berlebih di dalam negeri. Kenyataannya, di berbagai daerah barang tidak ada sehingga membuat harga melambung. (Media Indonesia)



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id