Ekspor Beras Renceng Bulog ke Arab Saudi Tertunda karena Administrasi

    Antara - 27 Februari 2020 17:53 WIB
    Ekspor Beras Renceng Bulog ke Arab Saudi Tertunda karena Administrasi
    Ilustrasi salah satu produk beras Bulog. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
    Jakarta: Rencana ekspor beras renceng sebanyak 100 ton ke Arab Saudi oleh Perum Bulog yang seharusnya dilakukan pada Kamis ini harus tertunda karena proses administrasi yang belum selesai.

    "Rencananya hari ini, tetapi saya harus undur karena ada beberapa administrasi yang kurang. Ternyata ekspor itu tidak mudah karena harus ada prosedur," kata Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso saat ditemui di Gudang Bulog Kelapa Gading, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 27 Februari 2020.

    Budi Waseso atau akrab disapa Buwas menjelaskan permintaan ekspor beras untuk memenuhi kebutuhan di Arab Saudi ini tentu saja disambut baik oleh BUMN pangan tersebut. Namun Buwas mengaku lupa untuk mengurus prosedur eksportasi ke Kementerian Perdagangan (Kemendag).

    Oleh karena itu, ia pun meminta agar Kemendag dapat membantu memberikan izin ekspor beras renceng itu mengingat pengusaha importir dari Arab Saudi meminta pengiriman beras dilakukan secepatnya.

    "Pikiran saya ekspor ya tinggal ekspor saja. Rupanya, lupa saya kalau ada Menteri Perdagangan, karena itu kan kewenangannya Kementerian Perdagangan, ya wajar. Jadi sekarang saya minta bantuan, karena Arab Saudi minta segera," kata Budi Waseso yang juga Mantan Kepala BNN tersebut, sambil tertawa.

    Adapun pengiriman tahap awal dilakukan sebesar 100 ton. Namun, ada penambahan permintaan jumlah beras dari Arab Saudi hingga 10 ribu ton. Impor beras yang dilakukan pihak Arab Saudi ini bertujuan memenuhi kebutuhan para Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di negara tersebut, baik bekerja, maupun melaksanakan ibadah umrah.

    Beras renceng kemasan 250 gram tersebut dijual dengan harga Rp15 ribu per kilogram (kg). Umumnya, WNI tidak terlalu menyukai jenis beras yang biasa dikonsumsi di Arab Saudi.

    "TKI di sana banyak juga. Banyak keluhan dari masyarakat kita yang ada di sana, mereka tidak suka karena beras yang di sana bentuknya panjang-panjang. Masyarakat kita di sana kangen dengan beras aslinya. Di sana enggak ada. Nah, sekarang direspons sama Pemerintah Arab Saudi," kata Budi Waseso.

    Budi Waseso menambahkan ekspor beras ke Arab Saudi itu tidak hanya berhenti pada jenis beras renceng saja, melainkan juga pada beras kemasan 5 kg dan 10 kg pada tahap selanjutnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id