Perusahaan BUMN Sulit Bersaing di Industri Ayam Nasional

    Ilham wibowo - 10 Oktober 2019 16:02 WIB
    Perusahaan BUMN Sulit Bersaing di Industri Ayam Nasional
    Ilustrasi. Foto : MI/BARY FATHAHILAH.
    Jakarta: Investasi di sektor industri pertanian dinilai perlu sejalan dengan tujuan negara dalam mengimplementasikan kedaulatan dan ketahanan pangan nasional. Negara juga wajib mengambil kembali penentuan kebijakan yang menjamin hak atas pangan bagi rakyat secara mandiri.
     
    Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik Wibowo mengatakan industri pertanian yang dikelola negara melalui BUMN masih lemah terutama dalam penyediaan protein hewani dari daging ayam maupun daging sapi. Dominasi swasta masih kuat di sektor hulu yang kemudian memutus mata rantai kontrol negara.

    "Kami BUMN yang fokus pada pertanian tetapi belum terkonsolidasi baik bukan hanya finansial tapi mitra dan ekosistem perusahaan sulit berkembang terkait industrinya," kata Eko dalam sebuah diskusi di Hotel JS Luwansa, Kuningan Jakarta Selatan, Kamis, 10 Oktober 2019.

    Industri peternakan ayam misalnya mengalami kesulitan karena fluktuasi harga di tingkat pengecer kerap terjadi lantaran mekanisme pasar yang berjalan. Perusahaan swasta  di Tanah Air bahkan telah memainkan peranan yang besar hingga secara tidak langsung bisa mengatur Harga pokok produksi (HPP) ayam pedaging (broiler).

    "Peningkatan HPP di ayam cenderung meningkat, mata rantai industri ini masih dikuasai pemain besar karena industri ini sangat tebal (menguntungkan), banyak celah yang dimanfaatkan sehingga mereka bisa kontrol produksi ini," ungkapnya.

    Idealnya dominasi mata rantai produksi pangan nasional bisa tetap dipegang negara melalui perusahaan BUMN agar stabilitas harga pangan terjaga. Keberpihakan regulasi yang ikut mendukung kemajuan industri pertanian dalam negeri juga diperlukan agar bisa memudahkan pemerataan kepada pengusaha kecil dan menengah.

    "BUMN perlu penguatan, tidak hanya regulasi tapi finansial. Kami perlu privilage dan regulasi yang support apa yang kami lakukan agar suplai pangan dan harga stabil," ungkapnya.

    Ekonom Senior Faisal Basri menuturkan dirinya prihatin lantaran penguatan industri pertanian terutama ayam di Tanah Air dengan sinergi BUMN tak berjalan. Saat ini lebih dari 85 persen populasi stok indukan ayam RI didominasi lima perusahaan swasta, yakni Charoen Pokphand Jaya Farm, Japfa Comfeed Indonesia, Malindo (Bibit Indonesia), CJ-PIA (Cheil Jedang Superfeed), dan Wonokoyo Jaya Corp.

    "Charoen Pokphand bisa urusi hulu ke hilir, ada lagi Japfa, mereka pemain dunia. Nasib kita ini siapa yang menguasai perut dia menguasai rakyat, masa kedaulatan rakyat kita dikendalikan perusahaan Thailand," kata Faisal.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id