BPS: Kenaikan Cukai Rokok Diharap Tak Angkat Angka Kemiskinan

    Suci Sedya Utami - 17 September 2019 18:29 WIB
    BPS: Kenaikan Cukai Rokok Diharap Tak Angkat Angka Kemiskinan
    Ilustrasi. FOTO: MI/Panca Syurkani.
    Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) berharap kenaikan cukai hasil tembakau atau rokok sebesar 23 persen tidak berdampak signifikan dan membuat kenaikan angka kemiskinan.

    Sebab seperti diketahui rokok merupakan penyumbang utama selain beras dalam penentuan angka kemiskinan. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan apabila dilihat dari tren-tren sebelumnya, kenaikan cukai rokok tidak terlalu memberikan pukulan bagi kemiskinan.

    "Kalau selama ini kenaikan cukai kan bertahap ya, jadi meski naik dampaknya ke inflasi contohnya 0,01 persen itu bertahap. Kalau ini 23 persen saya belum buat perhitungan dampaknya," kata Suhariyanto pada Medcom.id di Jakarta, Selasa, 17 September 2019.

    Suhariyanto berharap dampaknya tidak terlalu besar. Sebab jika dilihat masyarakat miskin mengonsumsi rokok-rokok linting (sigaret kretek tangan (SKT). Sementara yang mengalami kenaikan paling besar yakni sigaret keretek mesin (SKM).

    "Belum pernah ada kenaikan yang seperti ini (tinggi). Tapi saya harapkan tidak (berpengaruh) karena konsumsi rokok di masyarakat miskin bukan kretek filter, tapi mereka biasanya linting tembakau," tutur dia.

    Dirinya berjanji akan membuat perhitungan tersebut. Sebab kenaikan kali ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan kali ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Pemerintah beralasan kenaikan kali ini adalah akumulasi dari dua tahun. Sebab tahun sejak 2018 pemerintah menahan kenaikan cukai rokok.

    Di 2011 kenaikan cukai rokok enam persen; 2012 16,3 persen; 2013 8,5 persen; 2014 nol; 2015 8,7 persen; 2016 11,3 persen; 2017 10 persen; 2018 nol; 2019 nol (sejauh ini); 2020 direncanakan 23 persen.

    "Jadi jangan dibanyangkan kalau cukai rokoknya naik 23 persen, kemiskinannya langsung naik. Tidak begitu. Karena konsumsinya kan berbeda. Rokok variasinya sangat lebar sekali," jelas dia.

    Sebelumnya BPS merilis makanan dan rokok masih menjadi penyumbang utama garis kemiskinan di Indonesia. BPS mencatat pengaruh  rokok kretek filter terhadap garis kemiskinan pada Maret 209 sebesar 12,22 persen di perkotaan dan 11,36 persen di pedesaan. Angka ini meningkat dibandingkan dengan posisi September dan Maret 2018, masing-masing sebesar 10,39 persen dan 10,06 persen serta 11,07 persen dan 10,21 persen.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id