Menkeu: Kebocoran Impor Tekstil Bukan dari PLB

    Husen Miftahudin - 04 Oktober 2019 18:23 WIB
    Menkeu: Kebocoran Impor Tekstil Bukan dari PLB
    Menteri Keuangan Sri Mulyani. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.
    Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut kebocoran impor tekstil bukan berada di Pusat Logistik Berikat (PLB). Hal itu diketahui usai mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengecek langsung salah satu pelaku usaha PLB, PT Dunia Express Transindo (Dunex), dan mendengar penjelasan Asosiasi Pusat Logistik Berikat Indonesia (APLBI).

    "Kita suspect persoalannya bukan dari PLB karena selain ketat prosedurnya, PLB ini hanya menyuplai sekitar 4,1 persen dari seluruh impor tekstil dan produk tekstil (TPT)," ujar Sri Mulyani di gudang Dunex, Jalan Agung Raya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat, 4 Oktober 2019.

    Selain melalui PLB, impor tekstil bisa dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya impor umum atau impor yang dilakukan oleh produsen TPT itu sendiri tanpa melalui perantara PLB.

    "Impor yang dari produsen sendiri dilakukan dengan cara mengimpor langsung bahan bakunya. Jadi dia enggak perlu lewat PLB," jelas dia.

    Apalagi, lanjut dia, jumlah impor tekstil melalui PLB sangat kecil. Pada tahun ini, impor TPT melalui PLB hanya mencapai 4,1 persen dari total impor nasional. Porsi impor ini jauh lebih kecil dibanding dengan pintu impor lain.

    Adapun pintu impor TPT meliputi impor umum, impor kawasan berikat, dan impor dari PLB. Impor dari PLB terdiri dari Kelompok A sebesar 77 persen (3,15 persen dari total impor nasional) dan Kelompok B sebesar 23 persen (0,95 persen dari total impor nasional).

    Kelompok A diatur oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 64 Tahun 2017 tentang Ketentuan Impor TPT. Kategori ini perlu mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian, persetujuan impor Kementerian Perdagangan, dan laporan dari surveyor.

    "Kalau ada perusahaan yang mau impor, maka dia akan dilihat apakah dia impor barang yang produksinya sudah ada di dalam begeri, ini masuk kategori A. Kategori A ini, sebelum dia boleh impor dia harus memakai kuota (impor)," jelasnya.

    Sementara Kategori B merupakan impor barang yang belum diproduksi di Indonesia. Impor untuk barang di kategori ini tidak memerlukan persyaratan seketat Kategori A. Kategori ini bisa langsung mengimpor barang tanpa persyaratan kuota, tetapi tetap harus diperiksa oleh surveyor.

    Dengan demikian, mayoritas importasi TPT yang masuk melalui PLB memerlukan pengawasan yang jauh lebih ketat.

    "Jadi kalau nyelundup malah justru enggak melalui PLB, karena kalau di sini untuk mengimpor menggunakan fasilitas di sini dia harus presentasi dulu ke kanwil, dia harus menunjukkan NPWP, dia harus menunjukkan rencana kerjanya, sudah punya kuota apa belum, dan lain-lain di mana Bea Cukai dan pengelola PLB bersama-sama menjaga reputasi dari PLB ini," tegas Sri Mulyani.

    Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan Angka Pengenal Impor (API) untuk produsen atau API-P industri tekstil bersama akan diaudit karena ada potensi kebocoran impor tekstil. Enggar memastikan ada satuan tugas (satgas) yang akan mengecek kembali jumlah impor tekstil yang dilakukan oleh industri.

    Menurutnya, potensi kebocoran timbul karena produsen terkadang tidak jujur terkait jumlah yang dibutuhkan industri. Hal tersebut berdampak negatif bagi industri tekstil dalam beberapa waktu terakhir.

    Ia pun mengusulkan agar pemeriksaan impor di PLB dikembalikan ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Saat ini, sambungnya, pemeriksaan impor di PLB dilakukan oleh lembaga survei.

    "Kami akan periksa dan ubah sistem PLB ke Bea Cukai. Kami akan keluarkan izin impor berdasarkan kapasitas industri yang akan dilakukan audit segera," tuturnya seperti dinukil dari mediaindonesia.com.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id