Pengamat: Rencana Kenaikan Tarif Rokok Belum Tepat Sasaran

    Ade Hapsari Lestarini - 09 Desember 2019 07:37 WIB
    Pengamat: Rencana Kenaikan Tarif Rokok Belum Tepat Sasaran
    Ilustrasi buruh rokok. FOTO: dok MI.
    Jakarta: Rencana Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menaikkan tarif Harga Jual Eceran (HJE) Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) pada 2020 dinilai hanya berorientasi pada penerimaan cukai saja.

    "Sebaiknya pemerintah mengantisipasi dampaknya terhadap kemungkinan lay-off tenaga kerja," kata Peneliti dari Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 9 Desember 2019.

    Menurut Esther, alih-alih menaikkan tarif HJE bagi industri yang baru berusia setahun, Kemenkeu justru semestinya memberikan insentif fiskal bagi produk tembakau alternatif. Sebab, sejumlah kajian ilmiah internasional menyatakan produk tembakau alternatif ini memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok, sehingga dapat bermanfaat bagi perokok dewasa yang ingin berhenti merokok secara bertahap.

    "Pemerintah bisa memberikan insentif fiskal kepada produk HPTL yang lebih rendah risiko dengan pertimbangan dapat menjadi salah satu solusi bagi perokok dewasa yang sulit untuk berhenti merokok," tegas Esther.

    Esther melanjutkan, sama halnya dengan produk-produk lain yang mempunyai dampak lebih baik dari produk konvensionalnya, dengan adanya insentif fiskal, perokok dewasa lebih mampu menjangkau produk yang lebih rendah risiko tersebut. Dari sisi produsen pun akan semakin terpacu melakukan inovasi di industri produk tembakau alternatif. Dengan demikian, yang diuntungkan adalah perokok di Indonesia yang mempunyai pilihan lebih banyak.

    Sebagai contoh, pemberian insentif fiskal maupun non-fiskal terhadap produk tembakau alternatif sudah dilakukan oleh Inggris dan Selandia Baru. Esther mengatakan, pemerintah Inggris mengenakan tarif yang lebih murah bagi rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan. Alasannya, produk inovatif tersebut dapat membantu dalam menurunkan angka perokok di negaranya.

    Adapun pemerintahan Selandia Baru mengizinkan penjualan produk tembakau alternatif di seluruh apotek yang ada di negara tersebut. Produk tersebut hanya diperbolehkan dijual bagi perokok dewasa.

    "Oleh karena itu, produk HPTL harus diregulasi secara tepat. Misalnya produk HPTL yang lebih rendah risiko diberikan insentif fiskal, tetapi produk tersebut tidak boleh dibeli oleh orang yang bukan perokok," ujar Esther.

    Permasalahan kasus vape yang terjadi di Amerika Serikat hingga korban meninggal merupakan satu dari beberapa alasan yang memicu polemik terkait rokok elektrik. Menurut Esther, para pemangku kepentingan tidak boleh gegabah dalam menilai suatu peristiwa.

    "Kematian akibat rokok elektrik di Amerika Serikat harus diinvestigasi dulu bagaimana kasusnya," katanya.

    Agar kasus serupa tidak terjadi di Indonesia, Esther meminta pemerintah membuat regulasi khusus bagi produk tembakau alternatif. Regulasi tersebut nantinya mengatur uji produk, kualitas dan keamanan produk, batasan usia pengguna, penjualan produk, hingga pengawasan. "Anak di bawah umur dan orang yang bukan perokok harus dilarang membeli produk tembakau alternatif. Standar harus ditetapkan agar tidak ada penyalahgunaan," kata dia.

    Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo menambahkan pemerintah idealnya memberikan perlindungan melalui regulasi bagi industri inovasi baru. Sebab, kontribusi yang diberikan oleh industri ini berpotensi signifikan terhadap perlindungan kesehatan masyarakat maupun penerimaan negara.

    "Regulasi khusus yang mendukung keberlangsungan usaha akan mendorong pertumbuhan di industri produk tembakau alternatif. Selain itu, keberadaan regulasi akan menutup celah penyalahgunaan. Dengan demikian, anak-anak tidak dapat menjangkaunya dan perokok dewasa mendapatkan rasa aman. Kami berharap pemerintah mempertimbangkan hal ini dan memutuskan dengan bijak," tutup Ariyo.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id