Fokus Pengembangan Industri Farmasi Perlu Dilanjutkan

    Ilham wibowo - 18 April 2019 18:31 WIB
    Fokus Pengembangan Industri Farmasi Perlu Dilanjutkan
    Ilustrasi: Media Indonesia
    Jakarta: Calon presiden terpilih diharapkan tetap fokus pada pengembangan usaha di sektor industri farmasi. Tata kelola kefarmasian di tingkat kementerian menjadi tantangan tersendiri untuk dibenahi.

    Ketua Penelitian dan Pengembangan Perdagangan dan Industri Bahan Baku Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GP Farmasi), Vincent Harijanto, mengatakan pengembangan industri farmasi berkaitan dengan kinerja lintas kementerian. Karenanya sinergi perlu difokuskan agar terbangun.

    "Kami berharap sebagai pelaku usaha untuk meningkatkan kinerja masing-masing bagian sektor kementerian tertentu di pemerintahan," kata Vincent kepada Medcom.id, Kamis, 18 April 2019.

    Pengembangan dunia farmasi tak bisa hanya dilihat untuk kebutuhan mendesak kementerian kesehatan saja. Diperlukan koordinasi yang tepat pula bersama Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) maupun Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan agar semua kepentingan bisa diwujudkan secara berkelanjutan.

    "Satu industri bukan soal obatnya harus bagus dan harus bermanfaat tapi harganya harus murah, agak kontradiksi ya mungkin itu saja yang nanti kedepannya bisa lebih diharapkan,"  ungkapnya.

    Lebih lanjut, tantangan lainnnya yang bakal dihadapi yakni perlunya menggaet investasi besar untuk pengembangan industri farmasi dalam negeri. Jaminan kelancaran berusaha pun perlu dilakukan dengan mengedepankan kebijkan fiskal yang menarik seperti insentif pajak.

    "Harga (produk farmasi) bisa diturunkan tapi pajaknya turunkan juga dong, harus ada insentif kira-kiranya begitulah lingkaran koordinasi di antara kementerian," ujarnya.

    Industri farmasi memiliki potensi yang cukup baik untuk diekspor ke luar negeri. Sayangnya pengembangan industri farmasi terkendala oleh pemenuhan 95 persen bahan baku produksi yang masih impor.

    Saat ini industri farmasi di dalam negeri tercatat sebanyak 206 perusahaan. Dari jumlah tersebut didominasi oleh 178 perusahaan swasta nasional, serta diikuti sebanyak 24 perusahaan Multi National Company (MNC) dan empat perusahaan BUMN.

    Langkah konkret pemerintah telah dilakukan dengan membuka peluang bagi investor di Indonesia. Terlebih dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, industri farmasi dan bahan farmasi merupakan salah satu industri andalan untuk penggerak utama perekonomian di masa depan.

    "Memang yang disoroti tentu adalah kelola government official,  diharapkan perbaikan-perbaikan yang dilakukan, ya kalau petahana kan perbaikan bisa ditingkatkan dibandingkan sekarang," tuturnya.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id