LIPI: Barang Impor di E-Commerce Digemari Masyarakat

    Ilham wibowo - 13 Desember 2019 17:42 WIB
    LIPI: Barang Impor di <i>E-Commerce</i> Digemari Masyarakat
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
    Jakarta: Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) mengungkap masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih barang impor di aplikasi perdagangan online atau e-commerce. Faktor harga yang lebih miring ketimbang produk dari dalam negeri masih jadi alasan utama.

    Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Nika Pranata mengatakan tingginya pertumbuhan barang impor di e-commerce lantaran mudahanya melakukan perdagangan dan pengawasan pajak yang belum maksimal. Selain itu, masyarakat Indonesia dengan jutaan pengguna gadget cenderung menyukai nominal harga ketimbang kualitas produk.

    "Ada dua alasan, pertama adalah produknya langka atau tidak tersedia di Indonesia dan kedua harganya murah, barang-barang yang mereka beli itu peralatan elektronik dan fesyen," kata Nika di gedung LIPI, Jakarta, Jumat, 14 Desember 2019.

    Nika memaparkan hasil penelitian tersebut didapat dari survei yang dilakukan terhadap 1.626 responden yang terdiri dari 820 pembeli online dan 806 penjual online di sejumlah daerah di Pulau Jawa, Kepulauan Riau, Jawa Barat, dan Sulawesi Utara. Khusus barang impor, pembeli lebih sering memanfaatkan Alibaba dan Aliexpress asal Tiongkok, serta Amazon asal Amerika Serikat.

    Menurut Nika, kebanyakan pembeli asal Indonesia menggunakan platform tersebut untuk berbelanja peralatan elektronik seperti ponsel, kamera, laptop, dan komputer. Selain itu produk aksesori elektronik, yakni audio, printer, penyimpanan data, hingga aksesori HP juga banyak dicari.

    "Kami tanya penjualnya, apakah mereka tahu konsumen bisa belanja langsung dari luar negeri, lebih dari 90 persen menjawab tahu," paparnya.

    Berdasarkan temuan lapangan hampir semua penjual online Indonesia menyatakan bahwa praktek tersebut menurunkan penjualan mereka dan mengancam keberlangsungan bisnisnya.

    "Kami tanya juga seberapa ketat tingkat persaingan e-commerce Indonesia skala 1-5, rata-ratanya 4,32 artinya mendekati sangat ketat, serangan impor tadi menambah ketatnya persaingan bisnis e-commerce di Indonesia," tuturnya.

    Dari sisi produksi dan pemasaran, teori e-commerce tersebut memang memotong rantai nilai sehingga lebih kompetitif. Terlebih penciptaan nilai tambah dari e-commerce Indonesia juga masih rendah karena bahan baku masih banyak yang tidak diproduksi di dalam negeri.

    Menurut Nika, kehadiran e-commerce juga menciptakan fenomena atau pelaku usaha baru contohnya reseller dan dropshiper produk impor. Kelompok tersebut bisa berdampak negatif lantaran kurang membantu peningkatan produksi masyarakat lokal.

    "UMKM yang berperan sebagai dropshiper ini tidak banyak memberi nilai tambah, apalagi dropshiper impor. Dalam beberapa kasus pembeli pernah mencari barang di marketplace lokal tapi barangnya dari luar negeri dan pembeli itu enggak tahu," ujarnya.

    Data dari Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan menunjukkan sepanjang 2018 rata-rata jumlah barang kiriman impor melalui e-commerce meningkat 10,5 persen per bulan. Sementara dari sisi nilai transaksi melonjak 22 persen dari tahun sebelumnya.

    Tren tersebut terjadi akibat mudahnya konsumen Indonesia untuk membeli barang dari luar negeri. Hal ini pun perlu dicermati agar pelaku usaha dan produk di Indonesia tetap bisa bersaing.

    "Kami mendorong peningkatan platform e-commerce pertanian, ini usulan komparatif kami karena di luar negeri banyak feysen dan elektronik, di Indonesia sudah ada yang punya tapi masih kecil-kecil," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id