Simplifikasi Cukai Berpotensi Matikan Industri Kretek Nasional

    Eko Nordiansyah - 26 September 2019 12:14 WIB
    Simplifikasi Cukai Berpotensi Matikan Industri Kretek Nasional
    Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati. FOTO: dok MI.
    Jakarta: Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai usulan mendorong penyederhanaan (simplifikasi) tarif cukai hasil tembakau akan mengancam industri kretek nasional. Apalagi, Indonesia memiliki produk industri hasil tembakau (IHT) yang lebih heterogen.

    Menurut dia, implifikasi cukai dan penyesuaian harga jual eceran (HJE) berpotensi menimbulkan hilangnya produk-produk IHT Indonesia yang heterogen tersebut. Merujuk data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, terjadi penurunan jumlah IHT di Indonesia. Pada 2007 ada sebanyak 4.793 IHT, sementara di 2017 jumlahnya tinggal 487 IHT.

    "Indonesia memiliki beragam jenis rokok, PMK 156/2018 sudah sangat baik karena mengakomodir keragaman jenis rokok sehingga PMK tersebut layak untuk dipertahankan. Keragaman jenis rokok tadi juga berkaitan dengan serapan tembakau dalam negeri," kata Enny di Jakarta, Kamis, 26 September 2019.

    Dirinya menambahkan, simplifikasi cukai relevan diterapkan di berbagai negara-negara baik di Amerika dan Eropa dimana mayoritas mengonsumsi produk sigaret putih mesin (SPM). Fakta tersebut berbeda dengan Indonesia yang memiliki keragaman produk IHT.

    "Simplifikasi cukai dari 16 layer lalu turun menjadi 10 layer. Itu sudah sederhana, tidak perlu disederhanakan lagi. Pemerintah juga berencana menggabungkan golongan sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM). Itu ibarat Muhammadiyah dan NU, jadi jangan dipaksa digabung," ujarnya.

    Enny mengusulkan perlunya alternatif kebijakan struktur cukai hasil tembakau yang berkeadilan. Alternatif kebijakan tersebut dengan memerhatikan tiga hal utama, pertama, tenaga kerja. Untuk golongan sigaret kretek tangan (SKT) yang menyerap tenaga kerja (padat karya), perlu adanya afirmatif kebijakan dan insentif bagi pelaku IHT SKT.

    "SKT mendapatkan cukai hasil tembakau (CHT) lebih rendah daripada SKM maupun SPM. Kemudian, besarnya penyerapan tenaga kerja dapat dimasukkan menyusun struktur CHT," kata dia.

    Kedua, nilai budaya dan kekhasan. Layaknya anggur dan keju yang diberikan perlakuan khusus dalam bisnis negara-negara Eropa, hasil tembakau juga menjadi salah satu nilai budaya Indonesia yang perlu dirawat agar terus terjaga.

    "Kretek adalah rokok yang mengandung cengkeh dan unsur rempah alamiah di dalamnya. Kretek merupakan produk hasil racikan tembakau dengan potongan cengkeh, serta tambahan saus. Sedangkan rokok putih hanya mengandung tembakau saja. Racikan seperti inilah yang menjadikan rokok kretek memiliki rasa dan aroma yang berbeda dari jenis sigaret lain," ungkapnya.

    Ketiga, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang wajib dalam mendukung terciptanya produk nasional dan membatasi komponen impor dalam produk yang tercipta. Mengacu Peraturan Menteri Perindustrian No. 16/M-IND/PER/2/2011, format TKDN barang dapat dilihat berdasarkan komponen material langsung (bahan baku), alat kerja, dan tenaga kerja.

    "Dalam TKDN IHT, aspek yang dapat dihitung sebagai bahan baku yaitu hasil tembakau yang diperoleh, mesin yang digunakan dalam memproses dan tenaga kerja yang berperan dalam proses produksi. Meskipun 80 persen perusahaan yang berada dalam IHT memiliki tenaga kerja dari dalam negeri, namun komponen bahan baku dan alat kerja masih didominasi oleh impor. Padahal TKDN akan mampu mengurangi peningkatan impor tembakau, dan melindungi petani tembakau," pungkas dia.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id