Konsumsi Semen Nasional Diprediksi Naik Jadi 84,96 Juta Ton

    Husen Miftahudin - 10 Januari 2017 08:18 WIB
    Konsumsi Semen Nasional Diprediksi Naik Jadi 84,96 Juta Ton
    Ilustrasi bongkar muat semen. (FOTO: ANTARA/Dhoni Setiawan)
    medcom.id, Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprediksi konsumsi semen nasional pada 2017 naik menjadi 84,96 juta ton. Jumlah tersebut naik sekitar 30 persen bila dibandingkan estimasi tahun sebelumnya sebanyak 64,8 juta ton.

    Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, pertumbuhan konsumsi semen nasional itu lantaran adanya pembangunan infrastruktur yang sedang gencar dilaksanakan oleh pemerintah.

    Baca: Industri Semen Didorong Bidik Pasar Domestik

    Menurutnya, proyek pemerintah membutuhkan banyak pasokan semen dan akan naik setiap tahunnya. Di samping itu, maraknya pembangunan perumahan dan properti juga menjadi faktor meningkatnya permintaan semen.

    "Sebanyak 80 persen konsumsi semen adalah oleh masyarakat," ujar Sigit dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (10/1/2017).




    Sigit menjelaskan, pembangunan suatu negara diukur dari pertumbuhan industri semen. Jika industri semen tumbuh, maka pembangunan negara tersebut juga akan tumbuh.

    Dia menambahkan, salah satu indikator peningkatan nilai investasi industri semen tahun ini ditandai dengan beroperasinya pabrik semen baru milik Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah. Keberadaan pabrik semen tersebut diharapkan dapat mengangkat ekonomi daerah setempat.

    Sementara itu, Direktur Utama PT Semen Indonesia Rizkan Chandra mengatakan, kekuatan Holding Semen Indonesia Group (SMIG) saat ini adalah dari sisi kapasitas produksi. Meski kondisi perekonomian tengah alami persaingan yang semakin ketat, Semen Indonesia diklaim masih bisa menciptakan rekor baru di bidang produksi.

    Baca: 2017, Semen Indonesia Bidik Produksi 40 Juta Ton

    Pada 2016, Rizkan menyebutkan, Pabrik Tuban mampu memproduksi sebanyak 1,38 juta ton atau naik dua persen melampaui jumlah produksi 2015 sebesar 1,35 juta ton. "Kami berharap di tahun-tahun mendatang, pabrik-pabrik SMIG dapat ikut menorehkan prestasi produksinya," harapnya.

    Menurut Rizkan, peningkatan produksi ini didukung adanya pabrik yang terintegrasi sehingga mampu menciptakan peluang biaya distribusi yang lebih terjangkau dan jaminan ketersediaan produk di pasar.

    "Selain itu, juga didukung distribusi terintegrasi yang luas dengan 11 pelabuhan, 25 packing plant, dan ratusan distributor se Asia Tenggara," tutup Rizkan.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id