ICO Dorong Penyelesaian Krisis Harga Kopi Dunia

    Ilham wibowo - 27 Februari 2020 16:46 WIB
    ICO Dorong Penyelesaian Krisis Harga Kopi Dunia
    Ilustrasi. Foto: dok MI.
    Jakarta: Organisasi Kopi Internasional atau International Coffee Organization (ICO) akan memulai pertemuan lintas negara produsen kopi untuk mengatasi sejumlah masalah. Agenda pertemuan Dewan Kopi Internasional ke-126 yang akan dilaksanakan pada 27 April-1 Mei 2020 di London.

    Memulai misi pertama setelah sukses terpilih sebagai Ketua Dewan ICO periode 2019/2020, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (Dirjen PPI) Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo telah melakukan konsultasi dengan para pemangku kepentingan kopi serta Direktur Eksekutif/DE ICO Jose Sette di kantor pusat ICO di London.

    "ICO penting bagi Indonesia dan dalam pertemuan dewan yang akan dilaksanakan dua kali pada tahun ini, kami ingin memastikan relevansi ICO dalam mengatasi rendahnya harga dan keberlanjutan kopi untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi produsen (petani) dan konsumen kopi global," ungkap Iman melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 27 Februari 2020.

    Dalam rangka mengakomodasi isu-isu terkini kopi global, kata Iman, juga akan dibahas mengenai revisi International Coffee Agreement yang akan habis masa berlakunya pada 2 Februari 2021. Hal ini dilakukan untuk lebih mengoptimalkan peran dan kemitraan dengan sektor swasta.

    Menurutnya, krisis harga kopi global yang terus terjadi selama beberapa tahun terakhir menurunkan pendapatan petani karena tidak cukup memenuhi biaya produksi yang tinggi. Situasi ini diperparah dengan kondisi perubahan iklim yang juga mengganggu produksi.

    "Sebagai Ketua Dewan, kami akan menegaskan bahwa kopi merupakan salah satu komoditas pertanian yang menggerakkan roda ekonomi berbagai negara di dunia termasuk Indonesia, melalui penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Hal ini sangat terkait dengan pencapaian Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang harus ditopang secara berimbang oleh tiga pilar, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan," papar Iman.

    Untuk mengatasi rendahnya harga kopi, lanjut dia, ICO telah membentuk suatu Gugus Tugas kolaborasi antara pemerintah dan swasta. Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional, Kementerian Perdagangan, Antonius Yudi Triantoro, akan menjadi salah satu sherpa dalam Gugus Tugas tersebut.

    “Keanggotaan Indonesia di Gugus Tugas ICO untuk mewakili kawasan Asia dan Pasifik mencerminkan kepercayaan anggota ICO dari wilayah Asia terhadap peran dan kontribusi Indonesia bagi pengembangan sektor kopi dunia," kata Yudi.

    Misi Indonesia dalam Gugus Tugas ini yakni membantu ICO dalam mendorong kerja sama pemerintah dan swasta untuk menghasilkan solusi praktis yang berdampak langsung bagi kesejahteraan petani dan memastikan peningkatan produksi dan mutu serta nilai tambah kopi yang berkelanjutan.


    ICO merupakan organisasi kopi utama antar pemerintah yang dibentuk pada 1963 yang beranggotakan 44 negara produsen atau eksportir kopi dengan pangsa mencapai 98 persen dari total produksi dunia. Organisasi ini juga mewadari negara konsumen/importir kopi dengan kontribusi mencapai 67 persen dari total konsumsi dunia. Sebanyak 70 persen dari total produksi kopi dunia dihasilkan oleh 25 juta petani kecil di ICO.

    Adapun tujuan utama ICO yakni memperkuat sektor komoditas kopi secara global dan pengembangan berkelanjutan pada market-based environment untuk kemajuan seluruh negara anggota. Kewenangan tertinggi di ICO berada pada putusan Dewan yang saat ini diketuai oleh Dirjen PPI Kementerian Perdagangan.

    Saat ini Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia, dengan pertumbuhan konsumsi tertinggi di Asia dan tertinggi kedua di antara sesama negara produsen setelah Brasil.

    Berdasarkan data perdagangan kopi periode 2008-2018, produksi kopi Indonesia tumbuh 17 persen dan konsumsinya tumbuh 248 persen, dengan rata-rata per kapita sebesar 1,54 kg per tahun. Situasi ini menggeser status Indonesia dalam sektor kopi dunia, dari yang sebelumnya hanya sebagai negara produsen menjadi negara konsumen kopi dunia juga.

    Selain tingginya konsumsi kopi nasional, ekspor kopi Indonesia, utamanya jenis arabika, masih sangat diminati di pasar internasional. Produksi dan produktivitas, serta mutu dan nilai tambah kopi perlu terus ditingkatkan agar mendukung tingginya konsumsi dan permintaan akan produk kopi Indonesia.




    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id