comscore

Di World Economic Forum, Menperin Tegaskan RI Fokus Kembangkan Manufaktur

Husen Miftahudin - 24 Mei 2022 13:50 WIB
Di World Economic Forum, Menperin Tegaskan RI Fokus Kembangkan Manufaktur
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) bersama Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita dan Presiden World Economic Forum Børge Brende. Foto: Biro Humas Kemenperin.
Jakarta: Dalam perhelatan World Economic Forum di Davos, Swiss, Pemerintah Indonesia menyampaikan beberapa fokus perhatian terkait pengembangan sektor manufaktur di Tanah Air, antara lain pencabutan larangan ekspor crude palm oil (CPO) serta pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Presiden WEF menyampaikan pendapatnya mengenai pentingnya ketahanan pangan dan pendapatnya mengenai proteksi terhadap bahan baku pangan," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 24 Mei 2022.
Selanjutnya, pertemuan juga membahas upaya pencapaian target nett zero carbon yang dilakukan Indonesia. Agus bilang bahwa Presiden WEF menyampaikan potensi besar yang dimiliki Indonesia untuk mengembangkan renewable energy perlu didorong lebih kuat.

"Meskipun memang diakuinya bahwa pengembangan renewable energy diperlukan anggaran besar untuk melakukan substitusi dari energi fosil ke EBT," tuturnya.

Selain itu, pertemuan tersebut juga membahas rencana Indonesia mengembangkan Ibu Kota Negara (IKN). Presiden WEF mendukung hal ini sebagai upaya pemerataan ekonomi. WEF juga memandang Indonesia sangat berhasil dalam penurunan gini ratio yang merupakan indikator tingkat ketimpangan dalam masyarakat.

"Kami juga mengajak forum untuk berkolaborasi dalam upaya pemulihan ekonomi global yang secara inklusif," ujar Agus.

Upaya pemulihan ekonomi global berkaitan dengan Global Risk Report 2022 World Economic Forum yang melaporkan sekitar 84,2 persen responden merasa khawatir dengan arah masa depan dunia. Dalam Presidensi G20, Indonesia berupaya memastikan peran penting G20 dalam mengatasi kecemasan tersebut dengan menjadi katalis untuk pemulihan ekonomi global yang inklusif.

Hal ini dapat ditempuh melalui kolaborasi membangun daya saing sektor industri manufaktur yang berkelanjutan, terutama pengembangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan penerapan teknologi industri 4.0.

"Selain itu, kerja sama di sektor-sektor industri yang potensial seperti industri kemasan makanan, kemudian untuk komponen dan aksesoris kendaraan, farmasi dan obat-obatan, dan industri elektronika di ASEAN," pungkas Agus.


(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id