Stabilitas Makroekonomi Terjaga, RI Jadi Negara Layak Investasi Dunia

    Husen Miftahudin - 22 April 2021 18:06 WIB
    Stabilitas Makroekonomi Terjaga, RI Jadi Negara Layak Investasi Dunia
    Ekonomi Indonesia. Foto : MI.



    Jakarta: Lembaga Pemeringkat Rating and Investment Information, Inc. (R&I) mempertahankan peringkat Sovereign Credit Rating RI pada BBB+ dengan outlook stabil (investment grade). Peringkat tersebut menandakan bahwa RI jadi negara layak investasi, karena obligasi pemerintah daerah atau korporasi memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah.

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menanggap  afirmasi rating Indonesia oleh R&I menunjukkan keyakinan stakeholder internasional atas terjaganya stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia di tengah pandemi covid-19.

     



    "Hal ini juga didukung oleh kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah," ujar Perry dalam keterangannya yang dikutip dari laman resmi BI, Kamis, 22 April 2021.

    Ke depan, sebutnya, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik. Kemudian mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional.

    Dalam asesmen Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode April 2021, bank sentral memperkirakan ekonomi RI akan tumbuh di kisaran 4,1 persen sampai 5,1 persen pada 2021, setelah terkontraksi 2,1 persen pada 2020. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah terus melanjutkan upaya reformasi.

    Pada November 2020, Omnibus Law Cipta Kerja telah disahkan untuk mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja. Untuk menarik investasi asing dalam pembiayaan proyek khususnya infrastruktur, pemerintah telah membentuk sovereign wealth fund dan secara intensif mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur.

    "Ini didukung oleh berbagai inisiatif tersebut, R&I memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh pada kisaran lima persen dalam jangka menengah," sebut Perry.

    Di sisi eksternal, defisit transaksi berjalan pada 2020 menyempit menjadi 0,4 persen dari PDB, dipengaruhi oleh pelemahan permintaan domestik dan penurunan harga minyak. Dalam beberapa tahun ke depan, R&I memperkirakan defisit transaksi berjalan  berkisar antara 1,0 persen hingga 2,0 persen seiring dengan perbaikan permintaan domestik yang akan mendorong kenaikan impor.

    Sementara, cadangan devisa pada akhir Maret 2021 mencapai USD137,1 miliar atau setara dengan 10 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah sehingga dapat menjamin kecukupan likuiditas valas.

    Dari sisi fiskal, pada 2020 pemerintah melonggarkan sementara batas atas defisit fiskal sebesar 3,0 persen dari PDB untuk merespons pandemi covid-19. Belanja fiskal untuk  program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah mendorong pelebaran defisit hingga mencapai 6,1 persen dari PDB pada 2020.

    Untuk defisit fiskal pada 2021 diperkirakan sebesar 5,7 persen dari PDB, seiring berlanjutnya kebijakan fiskal ekspansif untuk mendorong pemulihan ekonomi. Pemerintah akan kembali menurunkan defisit menjadi maksimal 3,0 persen pada 2023.

    "Pada 2020, rasio utang pemerintah meningkat menjadi 39,4 persen. Ini masih rendah dibandingkan negara lain dengan peringkat yang sama dengan beban bunga yang masih terjaga," pungkas Perry.

    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id