Bank Dunia Kembali Revisi Target Pertumbuhan Ekonomi RI

    Annisa ayu artanti - 10 Oktober 2019 12:39 WIB
    Bank Dunia Kembali Revisi Target Pertumbuhan Ekonomi RI
    Ilustrasi. MI/ATET DWI PRAMADIA
    Jakarta: Bank Dunia kembali merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini. Semula, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2 persen pada April 2019, kemudian direvisi menjadi hanya lima persen hingga akhir 2019.

    Lead Economist Bank Dunia Indonesia Frederico Gil Sander menjelaskan banyak hal yang akhirnya membuat Bank Dunia merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satunya kondisi ekonomi global yang semakin bergejolak dan tidak menentu.

    "Diperkirakan akan turun menjadi lima persen pada 2019," kata Frederico, di Kantor Bank Dunia, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019.

    Namun, ia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali naik menjadi 5,1 persen pada 2020 dan 5,2 persen pada 2021. Adapun yang akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi tersebut adalah konsumsi swasta, inflasi yang terjaga, dan pasar tenaga kerja yang kuat.

    Selain itu, lanjutnya, posisi fiskal dalam negeri dan pertumbuhan investasi diperkirakan akan membaik usai pemilihan umum. Sektor bisnis pun diperkirakan tumbuh karena usulan kebijakan peningkatan investasi. Namun yang menjadi tantangan ke depan, Frederico menegaskan, adalah ketidakpastian global.

    Menurutnya eskalasi ketegangan perdagangan membuat ketidakpastian kebijakan dan menimbulkan risiko perdagangan global. "Perselisihan perdagangan yang berlanjut dapat membebani pertumbuhan regional dan harga komoditas. Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan neraca transaksi berjalan, akibat melemahnya ekspor," jelas dia.

    Kemudian tantangan berikutnya adalah lemahnya mata uang di negara berkembang lantaran investor menyeimbangkan kembali portofolio dengan aset safe haven tradisional seperti surat utang Pemerintah AS sebagai pengganti aset di pasar negara berkembang.

    "Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan konsekuensinya biaya pinjaman yang lebih tinggi menghambat pemulihan kredit baru-baru ini dan selanjutnya akan membebani invetasi swasta dan pertumbuhan ekonomi," jelas dia.

    Terakhir yang akan menjadi tantangan Indonesia adalah mengurangi ketimpangan antardaerah. Dari Maret 2018 hingga Maret 2019, Bank Dunia mencatat sebanyak 28 provinsi berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin. Sementara enam provinsi sisanya justru terjadi peningkatan penduduk miskin.

    "Indonesia kawasan timur khususnya tertinggal secara signifikan," pungkas dia.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id