Ekonomi Kuartal II Tumbuh Negatif, RI Masuk Resesi?

    Eko Nordiansyah - 05 Agustus 2020 14:54 WIB
    Ekonomi Kuartal II Tumbuh Negatif, RI Masuk Resesi?
    Ekonom Bank Permata Josua Pardede - - Foto: Medcom/ Desi Angriani
    Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 tumbuh negatif 5,32 persen secara year on year (yoy). Dibanding kuartal I maupun kumulatif sepanjang semester I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia sama-sama mengalami kontraksi.
     
    Dibandingkan kuartal I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tumbuh negatif 4,19 persen. Sementara secara kumulatif untuk semester I-2020, ekonomi Indonesia tumbuh minus 1,26 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu.
     
    Pada kuartal I, ekonomi Indonesia minus 2,41 persen secara kuartalan (Q to Q), meski secara YoY masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,97 persen. Lantas apakah Indonesia sudah masuk kategori resesi?
     
    Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan resesi baru terjadi ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut. Namun perhitungan resesi bagi Indonesia sebaiknya menggunakan pertumbuhan ekonomi tahunan bukan per kuartal.
     
    "Untuk data PDB yang sudah dilakukan penyesuaian musiman, maka pada umumnya, resesi teknis didefinisikan sebagai pertumbuhan kuartalan mengalami pertumbuhan yang negatif dua kuartal berturut-turut," kata Josua kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2020.
     
    Jika merujuk pada data PDB Indonesia yang masih belum menghilangkan faktor musiman, maka Indonesia secara teknikal belum mengalami resesi.
     
    "Kalau di AS, dan negara maju lainnya, kuartal to kuartal pertumbuhannya sudah cyclically adjusted (penyesuaian musiman). Tapi karena perilaku konsumsi, investasi dan perekonomian Indonesia dipengaruhi oleh faktor musiman seperti panen raya, Idulfitri, Natal, tahun ajaran baru sekolah, jadi akan tepat dan objektif kalau kita menggunakan pertumbuhan yoy (tahunan)," jelas dia.

    Josua pun menceritakan Indonesia pernah dua kali mengalami resesi yakni pada 1960 dan 1998. Pada periode itu perekonomian Indonesia dianggap resesi karena ekonomi terkontraksi sepanjang 1962-1963 dan diikuti oleh hyperinflation atau inflasi yang tak terkendali.
     
    Kemudian pada 1998, perekonomian Indonesia juga mengalami resesi sejalan dengan kontraksi ekonomi pada kuartal I-1998 hingga kuartal I-1999. Penyebab resesi ini didahului oleh krisis keuangan di Thailand yang kemudian berdampak pada pelemahan rupiah dan mengakibatkan kenaikan utang luar negeri Indonesia. 
    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id