Keterlibatan Perempuan di Bidang Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Negara

    Eko Nordiansyah - 30 Maret 2021 19:56 WIB
    Keterlibatan Perempuan di Bidang Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Negara
    Ilustrasi Partisipasi Angkatan Kerja perempuan di Indonesia - - Foto: MI/ Bary Fathahillah



    Jakarta: Pelibatan perempuan dalam ekonomi berpotensi meningkatkan kesejahteraan negara. Untuk mencapai itu, diperlukan adanya akses terhadap perempuan pada partisipasi ekonomi dan edukasi kesetaraan gender baik dari pemerintah maupun masyarakat.

    Direktur Executive Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) Maya Juwita mengatakan pelibatan perempuan dalam perekonomian bisa dengan memberi kesempatan bekerja. Saat ini Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia hanya 53,13 persen, sementara laki-laki berada di angka 82,41 persen.






    "Angka ini kalau dibandingkan, bisa dibilang masih ada potensi 30 persen sebagai pembayar pajak. Jadi tingkat ekonomi negara juga akan naik apabila perempuan bisa kita berdayakan lebih tinggi lagi," katanya dalam webinar 'Investing in Women: Mainstreaming Women Participation in The Economy' di Jakarta, Selasa, 30 Maret 2021.

    Menurut Studi McKinsey Global Institut, jika perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam perekonomian, maka pada 2025 Produk Domestik Bruto (PDB) global dapat meningkat sebesar USD28 triliun. Artinya jumlah ini mengalami peningkatkan sekitar sepertiganya.

    Penulis dan aktivis kesetaraan gender Kalis Mardiasih menambahkan dibutuhkan edukasi kesetaraan gender dari lingkungan yang terkecil, yaitu keluarga sehingga dapat menyelesaikan persoalan mitos-mitos perempuan yang ada dalam budaya masyarakat saat ini.

    Ia mengungkapkan realitas yang ada saat ini adalah tenaga kerja perempuan jumlahnya meningkat hampir 50 juta orang. Namun posisi yang ditempati oleh pekerja perempuan ini belum setara dibandingkan laki-laki sehingga menyebabkan adanya jurang (gap).

    "Namun tidak menempati tingkat pekerjaan yang setara dengan laki-laki sehingga menyebabkan adanya gender gap. Perlu ada gerakan di level terkecil seperti desa bahwa perempuan bisa menjadi misalnya Ibu RT, Ibu RW, atau memimpin sebagai kepala desa," ungkapnya.

    Sebagai salah satu perusahaan financial technology (fintech) yang fokus memberdayakan perempuan pengusaha mikro di pedesaan, Amartha turut mendorong kesetaraan gender dengan melibatkan perempuan pada kegiatan ekonomi dalam kampanye Investing in Women (berinvestasi pada perempuan).

    Chief Risk & Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto menyebutkan, mayoritas mitra Amartha saat ini sebanyak 637.901 merupakan perempuan. Dengan memberikan akses kepada permodalan usaha, pendapatan rata-rata peminjam Amartha tumbuh antara 200 persen hingga 700 persen setelah bergabung dengan Amartha.

    Hasil riset Amartha bersama CFDS menunjukkan bahwa adanya dorongan modal usaha kepada perempuan pengusaha mikro di pedesaan telah membuka akses pengambilan keputusan. Sebanyak 88,6 persen mitra Amartha terlibat dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangganya.

    "Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pinjaman produktif dapat mendorong pendapatan informal di pedesaan. Saat penghasilan meningkat, konsumsi turut meningkat sehingga berdampak pada peningkatan perekonomian di desa," pungkas dia.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id