Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Defisit APBN 2020 Bisa Diperlebar

    Ilham wibowo - 27 November 2019 20:02 WIB
    Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Defisit APBN 2020 Bisa Diperlebar
    Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Dokumentasi Kementerian Keuangan).
    Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan ditempuh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah tersebut dilakukan untuk menghadapi situasi perekonomian global yang diprediksi masih akan sulit.

    Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan kebijakan memperlebar defisit APBN bakal dilakukan bertahap pada 2020. Adapun implemetasi penerapan defisit APBN 2020 telah ditetapkan dan dimulai dengan angka sebesar 1,76 persen dari produk domestik bruto (PDB).

    “Kalau memang (defisit anggaran) harus melebar karena ekonomi global masih kalang kabut dan dampaknya ke Indonesia masih berat, maka enggak apa-apa pelebaran defisit di tahun depan,” tutur Suahasil dalam The 3rd Banking Forum Consumer Banking School 2019, di Hotal le Meridien, Jakarta, Rabu, 27 November 2019.

    Suahasil menjelaskan fungsi APBN perlu fleksibel sebagai instrumen stabilisasi perekonomian negara. Penetapan defisit APBN di angka 1,76 persen ditetapkan agar anggaran tetap kondusif. Skema ini telah berlangsung untuk kebijakan defisit APBN pada 2019 dari sebelumnya 1,84 persen menjadi dua persen hingga 2,2 persen dari PDB.

    “Target defisit kalau dari awal sudah dimulai di 2,5 persen, nanti saat ada pelebaran lagi pasti akan membuat kalang kabut semua karena batas maksimal tiga persen dari PDB sesuai aturan," paparnya.

    Melebarnya target defisit anggaran sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang makin rendah yaitu hanya 5,05 persen hingga akhir 2019. Pertumbuhan ekonomi yang tertekan berimbas pada kinerja penerimaan negara, terutama pajak, yang tumbuh jauh lebih rendah dari target pemerintah.

    Sementara, pemerintah memutuskan tidak melakukan pemotongan anggaran belanja demi menopang aktivitas perekonomian domestik. Sektor konsumsi dalam negeri masih menjadi tumpuan utama pertumbuhan sepanjang tahun ini sebesar 57 persen dari PDB.

    “Kita sudah tahu ekonomi hanya tumbuh di sekitar lima persen, jangan sampai APBN malah makin mendorong ekonomi ke bawah lagi. Konsekuensinya adalah pelebaran defisit, ya tidak apa-apa,” ungkapnya.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id