Pertumbuhan Aset Keuangan Indonesia Terendah Semenjak 2008

    Nia Deviyana - 23 September 2019 14:32 WIB
    Pertumbuhan Aset Keuangan Indonesia Terendah Semenjak 2008
    Ilustrasi. Foto : AFP.
    Jakarta: Menurut Laporan Kekayaan Global Allianz edisi kesepuluh, yang berisi hasil pengamatan terhadap aset dan situasi utang rumah tangga di lebih dari 50 negara, menunjukkan aset finansial bruto rumah tangga Indonesia naik 5,8 persen pada 2018. Hal ini berkebalikan dengan tren global, yang menunjukkan aset finansial di semua industri dan negara berkembang mengalami penurunan secara serentak.

    Meski demikian, kenaikan yang dialami Indonesia adalah yang paling kecil sejak krisis finansial 2008, atau setengah dari pertumbuhan tahun sebelumnya, meskipun memang masih yang paling kuat bila dibandingkan negara lain.

    "Perlambatan semacam ini terjadi di mana-mana. Deposito bank tumbuh 6,1 persen dengan mencatatkan pertumbuhan terendah dalam dua dekade terakhir. Sekuritas menguat 12,1 persen setelah menembus 28,2 persen pada tahun 2017," ujar Chief Economist Allianz Group Michael Heise, melalui keterangan resminya, Senin, 23 September 2019.

    Selain itu, asuransi dan tabungan pensiun di Indonesia akhirnya naik sedikit, yakni sebesar 3,1 persen. Di sisi lain, terjadi kenaikan utang sebesar 9,7 persen sebagai yang tertinggi sejak 2014.

    "Namun, rasio utang rumah tangga tetap stabil pada nilai 16,3 persen, atau tidak berubah selama lima tahun dan berada di bawah rata-rata regional (Asia, tidak termasuk Jepang) 52,4 persen," papar Michael.

    Secara global, para pemilik tabungan menghadapi kesulitan karena meningkatnya konflik perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, Brexit, dan peningkatan ketegangan geopolitik, makin ketatnya kondisi moneter, dan normalisasi kebijakan keuangan.

    Pasar saham pun bereaksi dengan jatuhnya harga ekuitas global sekitar 12 persen pada 2018, yang memberi dampak langsung pertumbuhan aset. Aset finansial bruto global untuk rumah tangga turun 0,1 persen dan bertahan di nilai 172,5 triliun euro.

    "Tentunya ada konsekuensi dari makin meningkatnya ketidakpastian ini," ungkap dia.

    Michael berpendapat, terkoyaknya tatanan ekonomi global yang teratur berdampak buruk bagi akumulasi kekayaan.

    "Jumlah pertumbuhan aset juga menjadi bukti: Perdagangan bukanlah zero-sum game. Sebagaimana yang terjadi tahun lalu, ini antara semua untung atau semua merugi. Proteksionisme agresif tidak akan memunculkan pemenang," pungkasnya.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id