Ekonomi Lesu Akibat Covid-19

    Ekonom Nilai Perluasan Basis Pajak Diperlukan

    Antara - 10 April 2020 14:04 WIB
    Ekonom Nilai Perluasan Basis Pajak Diperlukan
    Ilustrasi. FOTO: MI/ARYA MANGGALA
    Jakarta: Ekonom Danny Darussalam Tax Center (DDTC) Denny Vissaro menilai perluasan basis pajak semakin mendesak dilakukan di tengah kondisi ekonomi yang lesu akibat wabah covid-19 dan berdampak terhadap penerimaan perpajakan. Saat kontribusi ekonomi terhadap pajak menurun, pemerataan beban pajak melalui strategi yang tepat sasaran semakin dibutuhkan.

    "Pemerataan beban pajak melalui strategi yang tepat sasaran bukan hanya ditujukan untuk mempertahankan penerimaan pajak, namun juga untuk meredistribusi beban pajak secara lebih adil sesuai dengan kemampuan membayar," ujar Denny, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 10 April 2020.

    Ia menuturkan, perluasan basis pajak menjadi pendekatan yang tepat lantaran minimnya basis pajak di Indonesia. Basis pajak yang minim ini bisa dilihat dari empat indikator. Pertama, tingginya shadow economy alias aktivitas ekonomi yang tidak tercatat.

    Kedua, struktur penerimaan pajak yang tidak berimbang. Ketiga, kecilnya partisipasi jumlah wajib pajak. Keempat, deviasi aturan sistem pajak yang menyebabkan berkurangnya penerimaan atas dasar tujuan tertentu. "Dari keempat persoalan tersebut, jelas bahwa basis pajak masih menjadi persoalan yang mendasar di Indonesia," kata Denny.

    Untuk memperluas basis pajak tersebut, lanjut Danny, setidaknya ada lima langkah yang perlu dilakukan. Pertama, mengurangi ketergantungan pajak dari lapisan wajib pajak tertentu Hal tersebut bisa dilakukan melalui reorganisasi kantor pajak dan realokasi proporsi wajib pajak yang ditangani kantor pajak.

    Pemerintah, misalnya, telah mengubah fungsi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) pratama untuk menyasar kelompok wajib pajak yang belum masuk ke dalam pendataan. Kedua, kemudahan administrasi pajak. Pengurangan administrasi pajak yang dianggap terlalu membebani, akan mencegah kelalaian wajib pajak dalam melaksanakan administrasinya.

    Ketiga, meningkatkan moral pajak untuk membangun kepatuhan pajak sukarela. Kualitas moral pajak, tutur Denny, akan menentukan sejauh mana basis pajak dapat mencapai mayoritas wajib pajak, terutama yang berasal dari sektor informal.

    "Dengan moral pajak yang lebih baik, kontribusi pajak penghasilan yang bersifat angsuran atau kurang bayar dari orang pribadi diharapkan bisa optimal," ujar Denny.

    Strategi keempat, adalah memonitor dan mengevaluasi belanja perpajakan. Strategi tersebut perlu dilakukan lantaran setiap pelemahan ekonomi memiliki sumber yang berbeda-beda sehingga relaksasi pajak yang dibutuhkan juga berbeda. Oleh karena itu, lanjut Denny, ada baiknya pemerintah mengurangi belanja pajak yang tidak menjadi prioritas saat ini.

    Kelima, strategi perluasan basis pajak kelima adalah dengan mempertimbangkan jenis objek pajak baru, misalnya warisan atau pajak berbasis kekayaan lainnya. Saat tekanan untuk menurunkan tarif pajak semakin besar, perumusan objek pajak baru bisa menjadi opsi.

    Denny menambahkan, penambahan objek pajak baru memang belum tentu serta merta memberikan dampak dalam waktu dekat. Namun, hal tersebut akan sangat berguna untuk jangka panjang. Selain itu, ia juga mengingatkan, perluasan basis pajak sebaiknya tidak dilakukan semata-mata untuk pengumpulan penerimaan.

    "Lebih penting lagi, langkah tersebut perlu dilakukan dalam menciptakan kontrak fiskal yang lebih baik, adil, dan berkesinambungan dengan masyarakat," pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id