Sri Mulyani Cerita Upaya Pemerintah untuk Capai Visi Indonesia Maju

    Eko Nordiansyah - 01 April 2021 16:08 WIB
    Sri Mulyani Cerita Upaya Pemerintah untuk Capai Visi Indonesia Maju
    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: Antara/Aprilio Akbar



    Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan upaya pemerintahan Presiden Joko Widodo yang ingin mencapai visi Indonesia Maju pada 2045. Pada usia 100 tahun kemerdekaan itu, Indonesia diharapkan bisa sejajar dengan negara-negara maju dunia.

    Dalam berbagai kesempatan, ia menyebut, Presiden Jokowi selalu menyampaikan berbagai strategi dan upaya dari pemerintah untuk mencapai Indonesia Maju. Berbagai isu mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM), infrastruktur, hingga birokrasi menjadi perhatian.






    "Beliau selalu menyampaikan, SDM penting, infrastruktur sesudah tertinggal cukup banyak kita mencoba untuk akselerasi. Itu bukan tanpa konsekuensi, karena membutuhkan banyak resources," kata dia dalam webinar di Jakarta, Kamis, 1 April 2021.

    Penyederhanaan birokrasi dan regulasi juga menjadi perhatian dari pemerintah. Di sisi lain, transformasi ekonomi dari yang hanya mengandalkan sumber daya alam ke produk yang memiliki nilai tambah dinilai akan mendukung upaya untuk menjadi negara maju.

    "Banyak masyarakat kita punya banyak ide brilian namun dia tidak bisa dilaksanakan sebab dihadapkan pada begitu ruwet sistem dan halangan untuk bisa menerjemahkan dan melaksanakan ide," ungkapnya.

    Oleh karena itu, ia berharap perguruan tinggi dan para akademisi tidak hanya menyiapkan SDM yang unggul tetapi juga menyelesaikan masalah yang ada. Salah satunya adalah produktivitas SDM di Indonesia yang lebih rendah dibandingkan negara tetangga.

    "Produktivitas kita yang rendah terlihat dari komparasi terhadap negara-negara lain dihitung dari faktor produktivitas sumber daya manusia Indonesia dibandingkan Filipina itu menunjukan Indonesia, setiap kali kita mau growth kita hanya didominasi oleh menambah capital yang banyak, dan menambah jumlah tenaga kerja, namun Indonesia nyaris enggak ada (total factor productivity)," ujarnya.

    "Itu artinya kalau kita bicara seperti pemenang Nobel, katakan bahwa kita lebih banyak tumbuh dengan menggunakan otot dan keringat, banyak modal dan tenaga kerja, tapi tidak menciptakan nilai tambah berdasarkan inovasi," lanjut dia.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id