Pemerintah Diminta Pelototi Konsumsi Domestik

    Husen Miftahudin - 12 Februari 2020 17:15 WIB
    Pemerintah Diminta Pelototi Konsumsi Domestik
    Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah Redjalan - - Medcom/ Desi Angriani
    Jakarta: Direktur Eksekutif Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah meminta pemerintah fokus meningkatkan pertumbuhan konsumsi domestik. Maklum sektor ini paling menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, peranannya di atas 50 persen.

    Sayangnya, pertumbuhan konsumsi domestik terus mengalami perlambatan sejak 2015. Topangannya terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri terus berkurang dari di atas 60 persen menjadi di kisaran 50 persen.

    "Pemerintah jangan mengeluarkan kebijakan yang sifatnya menggerus daya beli masyarakat. Sekarang itu masyarakat sedang mengalami penurunan income (penghasilan) akibat harga komoditas yang jatuh," ujar Piter dalam diskusi di ruang rapat Fraksi Partai NasDem DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.

    Pemerintah, harap Piter, tidak menambah beban masyarakat dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan tidak populis. Misalnya, menaikkan harga yang diatur pemerintah (administered price) seperti bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik.

    "Nah sekarang yang harus dibutuhkan adalah jangan sampai dengan income yang turun, kemudian mereka ditambah lagi bebannya dengan kenaikan-kenaikan harga," ketus dia.

    Menurut Piter kenaikan iuran BPJS Kesehatan, menaikkan cukai rokok, meninjau skema subsidi gas, hingga mencabut subsidi listrik bakal menggerus daya beli masyarakat. Ujung-ujungnya, konsumsi rumah tangga yang menjadi motor penggerak perekonomian domestik bakal melempem.

    "Masyarakat sudah jatuh tertimpa tangga, karena income sudah turun akibat harga komoditas yang jatuh, mereka dibebani lagi dengan kenaikan-kenaikan harga. Ini yang kita harapkan tidak dilakukan oleh pemerintah, dihindari," tegas Piter.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga sepanjang 2019 hanya sebesar 5,04 persen. Realisasi itu melambat dibandingkan dengan posisi 2018 lalu sebesar 5,05 persen.

    Kondisi ini membuat realisasi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 hanya tumbuh sebanyak 5,02 persen. Angka ini melambat bila dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yang mencapai 5,17 persen, juga meleset dari target APBN 2019 sebesar 5,3 persen.

    Konsumsi rumah tangga punya pengaruh terbesar dalam pertumbuhan ekonomi 2019, kontribusinya mencapai 56,62 persen. Kontribusi kedua berasal dari tingkat investasi sebesar 32,33 persen dengan pertumbuhan 4,45 persen. Lalu, ekspor sebesar 18,41 persen dengan pertumbuhan yang minus sebesar 0,87 persen.

    Penyumbang ekonomi domestik lainnya berasal dari konsumsi pemerintah sebesar 8,75 persen dengan tingkat pertumbuhan 3,25 persen, konsumsi lembaga non profit rumah tangga (LNPRT) yang memiliki andil 1,3 persen dengan pertumbuhan 10,62 persen, dan impor yang mengurangi pertumbuhan ekonomi 22,03 persen dengan pertumbuhan yang minus 7,69 persen.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id