Tak Perlu Khawatir Resesi, di Zaman PKI Ekonomi Indonesia Lebih Terpuruk

    Annisa ayu artanti - 26 September 2020 20:10 WIB
    Tak Perlu Khawatir Resesi, di Zaman PKI Ekonomi Indonesia Lebih Terpuruk
    Ilustrasi perekonomian Indonesia - - Foto: Antara/ Aprillio Akbar
    Jakarta: Indonesia diyakini mampu menghadapi guncangan ekonomi akibat pandemi virus korona. Sebab, kondisi perekonomian Indonesia saat ini cenderung lebih stabil.
     
    Bandingkan dengan dekade 60-an. Saat itu kondisinya lebih buruk. Pemerintah tak memiliki kebijakan fiskal dan moneter yang prudent. 
     
    Inflasi yang tinggi membuat pemerintah mengambil kebijakan darurat yakni sanering (pemotongan nilai mata uang) hingga redenominasi (penyederhanaan nilai mata uang tanpa mengurangi nilai tukar). Namun, kebijakan-kebijakan tersebut tidak membuahkan hasil karena tidak melalui koordinasi yang baik dengan Bank Indonesia.
     
    "Terjadi tumpang tindih kebijakan, antara kebijakan fiskal dan moneter itu tidak terlalu prudent," kata Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal kepada Medcom.id, Sabtu, 26 September 2020.
     
    Pemerintahan Soekarno kala itu mencetak uang untuk membangun dan menciptakan kebijakan moneter yang ekspansif. Ia menerapkan sistem ekonomi terpimpin sehingga seluruh jalan perekonomian negara diatur oleh pemerintah pusat. Akibatnya, perekonomian Indonesia justru terjerembab pada titik nadir lantaran upaya tersebut gagal.
     
    Inflasi kian melambung, harga barang-barang menjadi sangat tinggi. Pada 1961 pertumbuhan uang beredar meningkat 41 persen, sementara inflasi mencapai 156 persen. Kemudian puncak krisis terjadi pada 1965. Saat itu, tingkat edar uang di atas 100 persen dan inflasi hampir menyentuh 600 persen.
     
    "Kondisi saat itu sangat buruk. Karena dalam satu bulan gaji itu tidak akan cukup. Inflasinya itu 600 persen lebih. Tidak hanya itu, barang-barang kebutuhan juga terbatas. Kalau kita lihat saat itu banyak orang antre beli beras dan minyak," tutur dia.
     
    Imbas kondisi tersebut, mayoritas masyarakat Indonesia berada di garis kemiskinan. Bahkan tingkat kemiskinan mencapai 90 persen. Padahal rata-rata pertumbuhan ekonomi negara yang baru merdeka melesat tinggi, sedangkan Indonesia hanya mampu meraih angka dua persen.
     
    Kondisi ini pun semakin runyam ketika Indonesia dihadapkan pada peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang disebut digagas Partai Komunis Indonesia (PKI). Gejolak politik tersebut semakin membuat ekonomi Indonesia terpuruk.
     
    "Jadi keadaannya sangat buruk, berbeda dengan kondisi sekarang (krisis akibat pandemi)," ucapnya.  
     
    Dengan berbagai pengalaman tersebut, Indonesia berhasil melewati krisis pada 1998. Setelah masa itu, pengelolaan sektor keuangan dan fiskal Indonesia lebih prudent karena diterbitkannya payung hukum independensi Bank Indonesia dan pembentukan Otoritas Jasa Keuangan pada 2011.
     
    "Kita melampaui 2008 dengan baik. ketika ada global financial crisis. Karena ada kebijakan makroprudensial yang cukup baik selepas 1998 , kita relatif lebih survive. dan bahkan setelah itu pada periode taper tantrum 2012-2016 kita melewatinya dengan baik," jelas dia.
     
    Dengan begitu, Indonesia diyakini dapat lolos dari berbagai tekanan akibat krisis kesehatan dan ekonomi yang terjadi secara global. Meskipun pandemi membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 terkontraksi 5,32 persen. Namun, sektor keuangan, nilai tukar rupiah dan inflasi masih terjaga. Bahkan neraca perdagangan Indonesia berhasil mencatatkan surplus dalam beberapa bulan terakhir.
     
    "Yang membedakan dari 1960-an itu, inflasi kita relatif terkendali. Memang di satu sisi kita mengalami penurunan daya beli, tapi di sisi lain pemerintah juga berhasil mengelola stok kebutuhan," jelas dia.
     
    Di sisi lain, masyarakat juga tidak terlalu terdampak signifikan lantaran pemerintah mampu menjaga stok dan harga barang dalam negeri. Kemudian tren index PMI justru masuk fase ekspansi di atas 50,8 seiring dengan naiknya persepsi dunia usaha. Kemudian indeks SKDU, indeks konsumen, dan indeks mobilitas juga tercatat meningkat.
     
    "Meskipun ada halangan disisi pandemi kita jauh lebih baik dan jauh lebih prudent. Sehingga guncangan ini saya rasa merupakan guncangan yang bisa kita lewati," pungkasnya.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id