Mari Pangestu: Virus Korona Berpotensi Turunkan Ekonomi Indonesia

    Antara - 05 Februari 2020 08:16 WIB
    Mari Pangestu: Virus Korona Berpotensi Turunkan Ekonomi Indonesia
    Mari Elka Pangestu. FOTO: MI/ADAM DWI
    Jakarta: Ekonom Senior Mari Elka Pangestu menyebutkan bahwa mewabahnya virus korona berpotensi menurunkan perekonomian Tiongkok sehingga akan berimbas pada perekonomian Indonesia. Tentu diharapkan segera ada antisipasi sedini mungkin agar sentimen negatifnya tidak terlalu dalam.

    “Kita lihat dari hitung-hitungannya kalau perekonomian Tiongkok turun satu persen maka perekonomian Indonesia itu kenanya 0,3 persen,” kata Mari, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu, 5 Februari 2020.

    Mari mengatakan hal tersebut dapat terjadi karena Tiongkok merupakan mitra dagang utama bagi Indonesia khususnya melalui permintaan batu bara dan kelapa sawit yang akan turun. “Karena masuknya dari harga dan permintaan komoditas terutama batu bara dan kelapa sawit yang demand-nya besar di Tiongkok,” ujarnya.

    Tak hanya itu, ia menyatakan, dampak virus korona terhadap penurunan ekonomi Tanah Air juga melalui sektor pariwisata yaitu menurunnya wisatawan dari Tiongkok maupun negara lain.

    “Misalnya satu tahun dampaknya maka ada dua juta wisatawan dari Tiongkok yang tidak datang dengan spending rata-rata USD1.000 per orang yang artinya itu USD2 miliar yang tidak masuk ke devisa kita,” jelasnya.

    Di sisi lain, Mari menuturkan pemerintah masih harus terus memantau perkembangan dari penyebaran virus korona yang akan memberikan dampak untuk perekonomian Indonesia maupun global.

    “Kalau dampak ekonomi mungkin kita harus melihat apa yang akan terjadi karena masih banyak yang tidak diketahui atau yang tidak pasti,” katanya.

    Ia mengatakan pemerintah juga perlu berkaca dari kasus wabah SARS pada 2003 yang mampu mempengaruhi perekonomian Tiongkok serta negara lain seperti Hong Kong. Mari menjelaskan kasus SARS saat itu berlangsung selama delapan bulan dengan menelan korban jiwa sebanyak 800 orang serta mencetak 8 ribu kasus yang 80 persennya terjadi di Tiongkok dan Hong Kong.

    “Itu menyebabkan ekonomi Tiongkok turun di sekitar kuartal pertama dua persen selanjutnya satu persen. Rata-rata turunnya satu persen. Tapi waktu itu Tiongkok ekonominya dari 11 persen jadi 10 persen,” katanya.

    Mari menuturkan pada kasus virus korona yang baru berlangsung sekitar dua bulan ini telah mampu menyebabkan 300 orang meninggal, 17 ribu kasus, serta menyebar ke 24 negara. “Kalau kita asumsi dia polanya mirip SARS tentunya akan ada dampak pada perekonomian Tiongkok dan berimbas pada pertumbuhan ekonomi global,” ujarnya.

    Oleh sebab itu, Mari mengimbau agar pemerintah dapat mengantisipasi risiko-risiko virus korona seperti kesigapan untuk mendeteksi dan melakukan karantina jika ada yang terkena virus. Selanjutnya, pemerintah juga perlu mempertimbangkan penghentian impor barang dari Tiongkok terutama untuk hewan sebab tidak semua produk membawa virus korona.

    “Nah ini apakah kita harus mencari pasar yang baru untuk antisipasi,” pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id