• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 20 NOV 2018 - RP 51.121.521.604

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Kadin Sebut Perang Dagang Tidak Langsung Cabut Kebijakan GSP

Annisa ayu artanti - 11 Juli 2018 08:15 wib
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Shinta Widjaja Kamdani
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Shinta Widjaja Kamdani (MI/RAMDANI)

Jakarta: Perang dagang yang diserukan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) kepada Tiongkok siap dilebarkan. Adapun perluasan perang dagang yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump dinilai tidak memengaruhi kebijakan Generalized System of Preferences (GSP) di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

GSP atau kebijakan perdagangan yang memberikan pemotongan bea impor terhadap produk ekspor negara tertentu tidak serta merta dihapus akibat adanya perang dagang. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani mengatakan GSP dikaji dan dievaluasi secara reguler.

GSP adalah program perdagangan AS yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di negara berkembang dengan menyediakan entri bebas bea masuk istimewa untuk hingga 4.800 produk dari 129 negara dan wilayah penerima yang ditunjuk.

Sejauh ini, lanjutnya, ada 3.500 produk Indonesia yang mendapatkan keringanan tarif. Namun, perang dagang yang terjadi tidak langsung mencabut kebijakan GSP tersebut. "Jadi ini dilakukan secara regular, bukan karena perang dagang mendadak mau dicabut," kata Shinta, seperti dikutip dalam acara Economic Challanges, di Metro TV, Rabu, 11 Juli 2018.

Ia menegaskan GSP dievaluasi secara reguler. Evaluasi kelayakan penerima GSP dilihat dari beberapa faktor seperti akses pasar produk Amerika ke Indonesia, kekayaan intelektual, dan tenaga kerja di Indonesia. Dari situ dikaji lagi apakah perlu Indonesia diberikan fasilitas GSP atau tidak.



Shinta menilai tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kebijakan GSP ini. Sebab nilai ekspor produk yang menggunakan fasilitas GSP tidak besar. Shinta menyebutkan, nilai ekspor produk yang dikirim ke Amerika Serikat menggunakan fasilitas GSP hanya sekitar USD1,8 miliar. Sedangkan nilai ekspor produk tanpa GSP sebanyak USD18 miliar.

"Nilai ekspor ke Amerika Serikat yang memakai GSP itu USD1,8 miliar dan itu hanya berapa persen dari ekspor kita ke Amerika Serikat yang sebesar USD18 miliar. Masih sangat kecil kalau dilihat dari sisi itu," ucap Shinta.

Di sisi lain, ia menyinggung mengenai produk tekstil yang menjadi produk unggulan Indonesia yang diekspor ke Amerika Serikat. Shinta menjelaskan selama ini ekspor tekstil tidak menggunakan fasilitas GSP. "Tekstil itu produk unggulan. Tekstil enggak masuk GSP karena sudah melebihi threshold," imbuh Shinta.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Anne Patricia Sutanto menambahkan, fasilitas GSP tidak dinikmati untuk ekspor tekstil dan clothing Indonesia. Sudah sejak lama ekspor tekstil Indonesia free fight dengan negara lain.

Ia menilai GSP tidak ada hubungannya dengan perang dagang. Perang dagang ini dilakukan karena pemenuhan janji politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump. "Di tekstil dan clothing kita dari dari dulu sudah fight. Kita free fight. Secara clothing dan tekstil sudah sangat kompetitif," jelas Anne.

Di 2017, Anne menyebutkan, Indonesia telah mengekspor produk grament sebanyak USD4,6 miliar dan USD200 juta untuk tekstil. Artinya produk Indonesia sudah sangat kompetitif meski tanpa fasilitas GSP. "Ekspor kita sendiri USD4,6 miliar itu memperlihatkan keunggulan kita tanpa GSP," tutup Anne.

 


(ABD)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.