APBN 2020 Berhasil Tahan Kontraksi Ekonomi Lebih Dalam

    Eko Nordiansyah - 11 Januari 2021 14:21 WIB
    APBN 2020 Berhasil Tahan Kontraksi Ekonomi Lebih Dalam
    Ilustrasi. Foto: Dok.MI
    Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mempu menahan terpuruknya ekonomi akibat pandemi covid-19. Meskipun defisit anggaran tahun lalu mencapai 6,09 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

    Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, kondisi pendapatan dan belanja negara menyebabkan defisit APBN sebesar Rp956,3 triliun atau minus 6,09 persen PDB. Realisasi ini lebih baik daripada asumsi minus 6,34 persen di Perpres 72/2020.

    "Meskipun relatif kecil dibandingkan negara-negara lain, APBN Indonesia telah bekerja secara optimal sebagai instrumen kebijakan countercyclical di masa pandemi," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin, 11 Januari 2021.

    Defisit Indonesia memang masih relatif lebih kecil dibanding banyak negara ASEAN maupun G20. Defisit Malaysia tercatat minus 6,5 persen, Filipina minus 8,1 persen, India minus 13,1 persen, Jerman minus 8,2 persen, Perancis minus 10,8 persen, Amerika Serikat minus 18,7 persen dari PDB.

    Di akhir 2020, realisasi sementara APBN Indonesia telah mencerminkan kebijakan-kebijakan luar biasa tersebut. Pendapatan negara mengalami tekanan yang cukup dalam. Pendapatan negara terkumpul sebesar Rp1.633,6 triliun atau turun 16,7 persen dibanding 2019.

    Jika dilihat dari targetnya, capaian ini setara dengan 96,1 persen dari target Perpres 72/2020. Realisasi ini cukup menggembirakan di tengah aktivitas perekonomian yang terganggu secara luar biasa, berupa hambatan permintaan dan penawaran, volatilitas harga komoditas, dan kurang optimalnya kinerja ekspor-impor.

    "Tidak hanya itu, pendapatan negara juga menurun karena pemberian stimulus fiskal perpajakan untuk membantu dunia usaha dan masyarakat yang terdampak covid-19," jelas dia.

    Di tengah pendapatan negara yang tertekan, realisasi belanja negara sepanjang 2020 terus terakselerasi dan ditutup dengan tumbuh sangat tinggi. Belanja Negara 2020 berada pada Rp2.589,9 triliun atau naik 12,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Jika dibandingkan dengan targetnya, penyerapan belanja setara dengan 94,6 persen dari Perpres 72/2020. Ia menambahkan, pertumbuhan realisasi belanja negara tersebut sejalan dengan strategi countercyclical yang ditempuh pemerintah dalam penanganan covid-19.

    "Hal ini terutama untuk menahan laju kontraksi ekonomi serta mengurangi dampaknya pada kenaikan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran akibat pandemi. Penyerapan belanja dilakukan dengan mengikuti tata kelola yang baik untuk memastikan seluruh kegiatan dan program tetap akuntabel meskipun harus dilakukan secara cepat," pungkasnya.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id