comscore

DBS Perkirakan Ekonomi Indonesia Melemah di Kuartal III-2021

Arif Wicaksono - 10 Agustus 2021 16:41 WIB
DBS Perkirakan Ekonomi Indonesia Melemah di Kuartal III-2021
DBS. Foto : AFP.
Jakarta: Prospek ekonomi hingga akhir 2021 sangat tergantung pada evolusi pandemi dan efektivitas (dan skala) dukungan yang diberikan oleh pihak berwenang.

Model GDP Nowcasting DBS, yang terkini, menunjukkan perlambatan pada triwulan ketiga 2021 sebelum menjadi stabil pada triwulan keempat, selama beban kasus covid-19 dikendalikan dan pendistribusian vaksin tetap berlangsung cepat.
"Kami mempertahankan perkiraan pertumbuhan setahun penuh kami di angka 3,5 persen untuk 2021, sebelum kemungkinan meningkat menjadi 4,5 persen pada tahun depan," jelas Ekonom DBS Radhika Rao dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 10 Agustus 2021.

Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada 3,5 persen untuk sisa tahun ini sementara memberikan sinyal bias pro-pertumbuhan melalui langkah-langkah untuk memacu pinjaman, langkah-langkah makroprudensial, dan memastikan pasar keuangan stabil (rupiah dan obligasi).

"Kebijakan fiskal kemungkinan akan melakukan lebih tugas berat pada tahun ini, dengan alokasi di bawah program pemulihan ekonomi nasional telah meningkat menjadi Rp774,7 triliun, naik 29 persen dibandingkan dengan alokasi 2020," jelas dia.

Indikasinya adalah anggaran kesehatan mungkin dinaikkan menjadi Rp300 triliun versus Rp215 triliun pada saat ini, yang mungkin mendorong pengeluaran stimulus secara keseluruhan.

Pada paruh pertama tahun ini, defisit tetap terkendali dengan baik di minus 1,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun prioritasisasi ulang pengeluaran mungkin diperlukan jika dukungan fiskal ditingkatkan untuk mempertahankan risiko penurunan terhadap pertumbuhan.

Dalam jangka panjang, kemampuan untuk menahan tingkat utang publik, memperkenalkan langkah-langkah peningkatan pendapatan, dan membalikkan kenaikan bagian pembayaran versus pendapatan keseluruhan akan diperlukan untuk memperbaiki keuangan publik secara material.

Di pasar, imbal hasil rupiah dan obligasi keluar dari titik terendahnya, mengambil jeda seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun serta dolar AS, yang turun dari harga tertingginya.

"Di dalam negeri, lelang obligasi rupiah baru-baru ini telah menarik minat kuat, didorong oleh tanda-tanda bahwa pemerintah akan mengurangi penerbitan utang bersih 2021 dengan memanfaatkan saldo kas yang tidak terpakai, selain menahan inflasi dan kekhawatiran fiskal," pungkas DBS.


(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id