Pemerintah Diminta Waspadai Risiko Taper Tantrum

    Husen Miftahudin - 04 Mei 2021 12:26 WIB
    Pemerintah Diminta Waspadai Risiko <i>Taper Tantrum</i>
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencermati fokus pemerintah untuk jangka menengah, khususnya terkait risiko taper tantrum dan mandat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

    Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan pada awal masa pandemi covid-19, pemerintah telah melonggarkan target defisit anggaran berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 dan menargetkannya untuk turun secara perlahan hingga mencapai di bawah tiga persen pada 2023.






    "Walaupun kondisi defisit fiskal Indonesia lebih baik dari India atau Tiongkok, Indonesia masih memiliki defisit fiskal yang lebih tinggi dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia masih yakin target tersebut akan tercapai karena kinerja ekonomi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan tahun ini," sebut Riefky dikutip dari hasil kajiannya, Selasa, 4 Mei 2021.

    Namun, karena pandemi terus berlanjut dan belum adanya tanda akan berakhir dalam waktu dekat, pemerintah tidak dapat serta-merta mencabut program stimulus yang telah dilaksanakan untuk mengurangi dampak pandemi covid-19 dan memulihkan perekonomian.

    "Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia perlu menyediakan solusi alternatif jika target tersebut tidak dapat tercapai pada 2023," harapnya.

    Melihat kondisi Indonesia saat ini, Indonesia masih berisiko mengalami pemulihan yang lebih lambat dibandingkan negara lain. Risiko ini diperkuat dengan jumlah kasus covid-19 yang terus meningkat.

    Sementara, kemajuan vaksinasi di Amerika Serikat menimbulkan optimisme tentang pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan pada paruh kedua tahun ini. Tren ini juga memicu wacana Federal Reserve untuk secara bertahap mengurangi program pembelian obligasi yang menopang pemulihan ekonomi dari pandemi yang dikenal dengan tapering off.

    Pada saat yang sama, Tiongkok, sebagai negara maju pertama yang mengalahkan covid-19, kini juga mulai bergerak untuk mengurangi stimulus ekonomi yang dikeluarkan akibat adanya pandemi. Di sisi lain, tanda-tanda pemulihan ekonomi di negara maju dapat memicu investor global menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

    "Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik, dapat memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah akibat adanya arus modal keluar. Terjadinya arus modal keluar akan membatasi potensi pertumbuhan ekonomi nasional yang kemudian diikuti oleh konsekuensi negatif lainnya," urainya.

    Dalam hal ini, Bank Indonesia (BI) tidak dapat menggunakan alat konvensional yang sama seperti tahun 2013, dengan melakukan pengetatan kebijakan moneter untuk mengatasi dampak dari taper tantrum mengingat kondisi perekonomian domestik yang tidak stabil dan tidak menentu.

    Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia perlu bersiap dengan mempercepat proses pemulihan dan menjaga stabilitas ekonomi domestik untuk menghadapi tantangan tersebut dalam jangka menengah. Sebab jika taper tantrum terjadi, Indonesia dapat kehilangan kepercayaan dari pasar karena utang yang membengkak.

    "Taper tantrum juga akan mempersulit upaya pemulihan yang telah direncanakan oleh Pemerintah Indonesia. Kondisi utang Indonesia saat ini berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan hati-hati," ucap Riefky.

    Per Februari 2021, utang luar negeri Indonesia mencapai USD422,6 miliar, lebih tinggi 3,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, rasio utang terhadap PDB Indonesia akan meningkat menjadi 37 persen tahun ini, dari 29,8 persen pada akhir tahun lalu, yang didorong oleh peningkatan pinjaman untuk menutupi defisit anggaran yang semakin melebar serta untuk mengatasi perlambatan ekonomi dan depresiasi rupiah.

    "Oleh karena itu, pemerintah harus bisa meningkatkan pendapatan kembali, setidaknya ke level utang di 2018 dengan strategi fiskal yang dilakukan," pungkas Riefky.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id